Bagaimana kekerasan ini berlangsung bisa dibaca di antaranya dari kesaksian Panda Nababan yang menjadi jurnalis Sinar Harapan saat itu. Suatu kali ia diajak oleh Jusuf Hasyim, salah seorang tokoh NU saat itu untuk mengunjungi Losarang, sebuah kawasan basis NU di Jawa Barat, yang kampungnya diobrak-abrik aparat, dan sebagian penduduknya pergi menyelamatkan diri. Panda menulis: “Saya menyaksikan rumah dan masjid yang dihancurkan. Dari beberapa rumah yang kami masuki, kami bisa melihat betapa rumah-rumah itu telah ditinggalkan dengan tiba-tiba oleh penghuninya. Di atas meja makan sebuah rumah, misalnya, masih ada piring nasi dan cangkir-cangkir kaleng. Di atas piring-piring itu berserakan makanan yang sudah membusuk.
Pemilu 1971 merupakan wahana konsolidasi penting Orde Baru menancapkan kekuasaan politiknya.Pemilu sekadar prosedur saja, karena penuh dengan kecurangan dan manipulasi, baik melalui operasi senyap maupun kekerasan langsung (tekanan, ancaman, intimidasi, teror), bahkan bukan tidak mungkin penghilangan nyawa.
Latar sejarah inilah yang dibahas Ken Ward dalam buku NU, PNI, dan Kekerasan Pemilu 1971.
Ward juga membahas dua partai tinggalan Orde Lama: PNI dan NU dikerjain sedemikian rupa.
Masyumi yang para tokohnya banyak anti Sukarno dan anti PKI, tidak diperbolehkan hidup lagi kecuali dengan nama baru. Akibatnya, mereka tidak memiliki taji dan kekuatan lagi.
Pemerintah juga membuat Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1970 yang membatasi keanggotaan partai politik bagi aparat negara. Upaya ini jelas melemahkan PNI.
Selain itu, buku ini membahas ideologi Golkar, yang meski mengklaim bukan partai politik dan juga organisasi netral, tetapi memiliki anggota berupa PNS yang harus loyal kepada pemerintah. Partai ini juga bekerja dengan mengandalkan dwifungsi ABRI, di mana militer bisa menjadi aktor di bidang politik dan ekonomi.
Uniknya, jika Anda membaca buku ini, Anda bisa melihat bahwa pola yang terjadi pada Pemilu 1971 mirip sekali dengan Pemilu yang terjadi belakangan. Kok bisa ya?





