Ajian ini diyakini mampu membuat tubuh pemiliknya kebal dari senjata tajam dan serangan fisik dengan membentuk lapisan pelindung tidak terlihat sekitar satu jengkal dari permukaan kulit. Kata “sekilan” dalam bahasa Jawa artinya satu jengkal, yang merujuk pada batas pelindung ini.
Kepercayaan terhadap Ajian Lembu Sekilan telah berlangsung sejak dahulu kala dan sering dikaitkan dengan para pendekar, prajurit, atau tokoh spiritual yang dikenal tidak bisa dilukai oleh senjata apa pun.
Ajian Lembu Sekilan diyakini berasal dari masa Kerajaan Majapahit dan dikaitkan erat dengan Patih Gajah Mada, seorang tokoh legendaris yang dikenal luas dalam sejarah Nusantara.
Konon ajian ini merupakan warisan kekuatan spiritual yang dimiliki Gajah Mada untuk menjaga keberhasilan dan perlindungan dalam berbagai perjuangan untuk kerajaan.
Pada masa modern, ajian ini juga sering dikaitkan dengan tokoh besar seperti Soekarno, meskipun tidak ada bukti yang pasti. Keyakinan ini memperkuat citra Soekarno sebagai pemimpin yang kuat dan tangguh dalam menghadapi tantangan.
Untuk menguasai Ajian Lembu Sekilan, tidak cukup hanya dengan hapalan mantra, tetapi juga harus menjalani ritual tirakat yang ketat.
Ritual ini mencakup puasa mutih, berendam dalam air (kungkum), serta meditasi yang membutuhkan kesabaran dan kedalaman spiritual. Ilmu ini tidak hanya melindungi secara fisik, tetapi juga menguji kesabaran dan kemurnian spiritual seseorang yang menguasainya.
Oleh karena itu, ajian ini menjadi bagian dari warisan leluhur yang dijaga secara ketat dan hanya diwariskan kepada orang-orang yang dianggap layak secara spiritual.
Meskipun di era modern kepercayaan terhadap Ajian Lembu Sekilan mungkin diragukan oleh sebagian orang, tradisi ini masih hidup terutama di kalangan yang menjaga tradisi kejawen dan kepercayaan pada dunia supranatural.
Kisah Ajian Lembu Sekilan sering muncul dalam cerita rakyat, pertunjukan wayang, film, dan sinetron yang mengangkat tema mistik atau kolosal. Keberadaan ajian ini menjadi simbol kekuatan, keberuntungan, dan perlindungan yang terkait erat dengan budaya Jawa dan Indonesia.
Ajian Lembu Sekilan bukan hanya sekadar benda atau mantra, tetapi memiliki makna yang mendalam dalam ajaran kebatinan Jawa.
Ilmu ini mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam dan dunia spiritual, serta mewakili kearifan lokal yang terus dilestarikan sejak generasi ke generasi.
Meskipun menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat modern yang rasional, nilai-nilai budaya dan spiritual yang terkandung dalam ilmu ini tetap dihormati dan dianggap sebagai bagian penting dari warisan budaya bangsa.
Dengan demikian, Ajian Lembu Sekilan bukan hanya ilmu kebal, melainkan juga simbol harmonisasi spiritual dan kekuatan dalam kehidupan masyarakat Jawa dan Indonesia.





