Home / Hikayat, Seni dan Budaya / Mengenal Tradisi Jogja Yang Masih Eksis

Mengenal Tradisi Jogja Yang Masih Eksis

Nguras Enceh

Upacara Nguras Enceh adalah upacara yang juga diikuti oleh abdi dalem Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta. Saat ini, upacara yang bertujuan untuk membersihkan lahir dan batin dari macam-macam hal kotor ini sudah menjadi Warisan Budaya Tak Benda dari DIY Yogyakarta.

Masyarakat setempat melaksanakan Nguras Enceh satu tahun sekali, yaitu pada hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon pada bulan Sura. Jika kamu belum tahu, Sura adalah bulan dari kalender Jawa. Bulan tersebut bertepatan dengan bulan Muharram pada perhitungan kalender Hijriyah.

Ritualnya sendiri cukup menggambarkan tujuan dari Nguras Enceh sendiri, yaitu dengan membersihkan empat buah gentong yang terdapat di makam raja-raja yang terletak di daerah Imogiri, Bantul.

Selain untuk membersihkan diri, masyarakat juga percaya bahwa air yang terdapat di dalam gentong-gentong ini memiliki khasiat tersendiri, di antaranya adalah menjauhkan dari musibah dan menyembuhkan dari penyakit.

Jamasan Pusaka

Foto: kebudayaan.jogjakota.go.id

Jamasan Pusaka juga dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta pada bulan Sura. Tradisi ini masih sangat dijunjung tinggi hingga hari ini. Jamasan Pusaka sendiri berarti membersihkan pusaka, atau benda-benda keramat yang terdapat di Keraton Yogyakarta.

Tidak hanya untuk membersihkan koleksi-koleksi pusaka di Keraton, tapi Jamasan Pusaka juga sebagai bukti penghormatan dan simbol menyambut tahun baru Jawa. Salah satu benda keramat yang akan dibersihkan pada momen Jaman Pusaka ini adalah keris.

Tentu, membersihkan keris pusaka tidak bisa sembarangan. Prosesnya harus dilakukan secara berhati-hati dan cermat. Membersihkannya pun tidak bisa menggunakan air biasa, melainkan harus menggunakan beberapa campuran.

Awalnya, mereka akan berdoa, kemudian membersihkan keris dengan jeruk nipis dan membilasnya dengan air. Setelah itu mereka memberi warangan dari batu arsenik dan mengakhiri proses Jamasan Pusaka ini dengan memberi campuran minyak kelapa dan cendana pada keris.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *