Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Monumen Komodor Muda Udara (Anumerta) Husein Sastranegara yang berlokasi di dalam Kompleks UPT Rumah Pengasuhan Anak Wiloso Projo, sah diresmikan pada Selasa (07/04). Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X mengungkapkan, peresmian monumen ini menjadi bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa besar seorang putra bangsa yang telah memberikan pengabdian luar biasa bagi tanah air, khususnya dalam merintis kekuatan udara Indonesia.
“Sebagai salah satu pelopor penerbangan militer di Indonesia, Komodor Udara (Anumerta) Husein Sastranegara telah menunjukkan dedikasi, keberanian, dan semangat juang yang tinggi dalam masa-masa awal kemerdekaan,” tutur Sri Paduka saat membacakan sambutan Gubernur DIY.
Monumen ini pun diharapkan menjadi pengingat bagi generasi saat ini dan yang akan datang tentang pentingnya nilai-nilai perjuangan, pengorbanan, dan cinta tanah air. “Kita ingin memastikan bahwa semangat juang para pahlawan tidak hanya dikenang, tetapi juga diwariskan dalam bentuk tindakan nyata untuk membangun bangsa. Untuk itu, saya mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan monumen ini sebagai sumber inspirasi,” jelas Sri Paduka.
Selain itu, Sri Paduka turut mengajak segenap pihak untuk dapat meneladani semangat pengabdian Komodor Udara Anumerta Husein Sastranegara. Baik dalam menjalankan tugas, dalam berkarya, maupun dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Sementara itu, dalam peresmian monumen ini, Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU), Marsekal Muda TNI Donald Kasenda, S.T., S.I.P., M.M. pun menyebutkan bahwa Komodor Udara (Anumerta) Husein Sastranegara adalah salah satu putra terbaik bangsa, perintis TNI Angkatan Udara yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menjaga dan menegakkan kedaulatan udara kesatuan Republik Indonesia. Ia lahir di Cianjur pada tanggal 20 Januari 1919, dan gugur pada tanggal 26 September 1946, ketika melaksanakan tugas.
Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 26 September 1946, Komodor Udara Husein Sastranegara mendapat tugas untuk melaksanakan uji terbang atau test flight menggunakan pesawat cukiu yang merupakan peninggalan Jepang di era perang dunia ke-2. Direncanakan, pesawat ini akan digunakan untuk mengangkut Perdana Menteri Sultan Sjahrir dari Jogja ke Malang dalam rangka mendukung kelangsungan pemerintahan Republik Indonesia yang saat itu masih berada dalam suasana revolusi dan penuh keterbatasan.
“Tugas tersebut merupakan misi penting dan sangat strategis yang mencerminkan besarnya tanggung jawab dan kepercayaan negara kepada beliau,” ujar Marsda TNI Donald Kasenda.
Namun, pada saat melaksanakan tes flight, takdir berkata lain. Pesawat cukiu tersebut mengalami kerusakan mesin dan jatuh di Gowongan Lor, Yogyakarta. Akibat kecelakaan tersebut, Komodor Udara Husein Sastranegara gugur bersama teknisi pesawat, Sersan Mayor Udara Rukidi.
“Peristiwa tersebut bukan sekadar sebuah tragedi, melainkan telah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah TNI Angkatan Udara. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan dan keamanan wilayah udara bangsa ini dibangun atas keberanian, keikhlasan, dan pengorbanan jiwa raga para pendahulunya,” papar Marsda TNI Donald Kasenda.
Oleh karena itu, menurut Marsda TNI Donald Kasenda, pembangunan monumen ini tidak dimaksudkan hanya sebagai penanda fisik, tetapi juga sebagai media pengingat kolektif akan nilai-nilai luhur kepahlawanan. Monumen ini diharapkan mampu menanamkan semangat juang, keberanian, dan pengabdian Komodor Udara Husein Sastranegara serta teknisi pesawat, Sersan Mayor Udara Rukidi kepada generasi masa kini dan masa depan.
“Kami berharap keberadaan monumen ini dapat menjadi sarana edukasi sejarah, sumber inspirasi serta ruang refleksi bagi masyarakat luas. Khususnya bagi para prajurit angkatan udara agar senantiasa menumbuhkan kecintaan kepada tanah air, loyalitas kepada bangsa dan negara serta kesiapsiagaan dalam menghadapi setiap tantangan pengabdian di masa yang akan datang,” imbuh Marsda TNI Donald Kasenda.
Komodor Udara Husein Sastranegara gugur dalam usia 27 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Meski pengabdiannya tergolong singkat sekitar satu tahun setelah berdirinya Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), namun semangat pengabdian dan perjuangannya telah menjadi teladan bagi generasi muda penerus bangsa.
Sebagai perwakilan Keluarga Komodor Muda Udara (Anumerta) Husein Sastranegara, Komandan Lanud Abdulrachman Saleh, Marsma TNI Reza Ranesa Rasyid Sastranegara, S.Sos., M.AP., MNSS. menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Daerah DIY khususnya kepada Sri Paduka. Sebab monumen ini salah satunya dapat hadir atas inisiasi, dorongan, dan dukungan dari Sri Paduka dan AAU.
“Pembangunan monumen ini memiliki makna sangat penting bagi kami. Tidak hanya sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdian beliau kepada bangsa negara, tetapi juga sebagai simbol keteladanan, nilai-nilai perjuangan, patriotisme serta semangat rela berkorban yang telah beliau wariskan kepada kami dan tentunya kepada generasi penerus di TNI Angkatan Udara,” sebut Marsma TNI Reza.
Humas Pemda DIY





