Bantul,REDAKSI17.COM– Di kawasan bersejarah Pleret, Bantul, Museum Pleret hadir sebagai ruang pembelajaran yang menghubungkan perjalanan panjang peradaban Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Melalui penataan ruang yang modern dan narasi sejarah yang runtut, museum ini mengajak pengunjung menelusuri jejak masa prasejarah, kejayaan Mataram Islam, hingga periode kolonial dalam pengalaman edukatif yang inklusif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Dikelola oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Museum Pleret merupakan hasil transformasi dari Museum Sejarah Purbakala Pleret. Pada awalnya, museum ini difungsikan sebagai tempat penampungan temuan Benda Cagar Budaya dari wilayah Bantul. Seiring bertambahnya koleksi dan meningkatnya nilai edukasi yang dimiliki, museum kemudian dibuka untuk umum pada 2014.
“Awalnya museum ini hanya difungsikan sebagai tempat penampungan temuan cagar budaya. Seiring bertambahnya koleksi yang bernilai edukatif, museum kemudian dibuka untuk umum dan berkembang menjadi sarana pembelajaran sejarah sekaligus rekreasi yang ramah bagi masyarakat,” ujar Edukator Museum Pleret, Ayu Oktafi D., yang akrab disapa Afi.
Menurut Afi, koleksi Museum Pleret merepresentasikan rentang sejarah yang panjang dan berkesinambungan. Artefak masa prasejarah, peninggalan Hindu-Buddha, jejak kejayaan Mataram Islam, hingga koleksi dari masa kolonial disajikan dalam satu alur narasi yang utuh, sehingga memudahkan pengunjung memahami perjalanan peradaban DIY dari masa ke masa.
Transformasi museum tidak hanya tercermin pada perubahan nama, tetapi juga pada konsep pengelolaan dan penataan ruang yang lebih modern dan kekinian. Ruang pamer dirancang dengan pendekatan visual modern, pencahayaan yang nyaman, serta alur cerita yang tertata runtut. Penyajian koleksi dibuat komunikatif dan mudah dipahami oleh berbagai kelompok usia.
Pengembangan Museum Pleret turut didukung oleh Dana Keistimewaan (Danais) Urusan Kebudayaan. Penataan bangunan dan kawasan taman dilakukan secara bertahap sejak 2020 hingga 2024, dengan mengedepankan efisiensi fungsi ruang serta standar pengelolaan museum yang profesional.
Penataan tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan ruang pamer tetap yang aman, ruang penyimpanan koleksi (storage), serta sarana pendukung lainnya, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 tentang Permuseuman.
Kini, Museum Pleret tampil sebagai museum yang inklusif dan interaktif. Selain menghadirkan display visual modern dengan media audio, museum ini juga menyediakan ruang interaktif bagi anak usia dini. Di ruang ini, anak-anak dapat beraktivitas kreatif seperti mewarnai dan bermain permainan tradisional, antara lain dakon dan yoyo.
Keunikan Museum Pleret juga diperkuat oleh keberadaan Situs Cagar Budaya Sumur Gumuling, sumber air Kedaton bekas Keraton Pleret peninggalan Mataram Islam yang dibangun sekitar abad ke-17. Situs ini menegaskan posisi Museum Pleret sebagai bagian dari Poros Kerajaan Mataram Islam. Di kawasan sekitarnya, masih terdapat sejumlah situs penting lain, seperti Situs Kerta dan situs-situs pendukung sejarah Pleret.
Secara tematik, Museum Pleret terbagi dalam tiga ruang utama. Ruang Gunung Kelir menyajikan koleksi masa prasejarah dan Hindu-Buddha, Ruang Kerta menampilkan koleksi masa Mataram Islam hingga kolonial, sementara ruang interaktif menjadi wadah bagi pengunjung untuk berinteraksi langsung dengan materi edukasi.
Koleksi unggulan museum antara lain umpak atau landasan tiang bangunan, keris Sabuk Inten, peralatan batu masa prasejarah, arca, bagian candi, hingga bata berukuran besar yang merupakan komponen bangunan Keraton Mataram Islam. Dari periode kolonial, museum juga menyimpan temuan benda-benda eks pabrik gula yang pernah beroperasi di kawasan Pleret.
“Dengan berkunjung ke Museum Pleret, pengunjung tidak hanya belajar sejarah melalui koleksi, tetapi juga dapat mengunjungi langsung situs-situs di Kawasan Cagar Budaya Kerta–Pleret,” kata Afi.
Pengalaman berkunjung ke Museum Pleret semakin lengkap dengan hadirnya program Gowes Situs (Gesit), yakni kegiatan bersepeda menyusuri kawasan cagar budaya yang diselenggarakan secara gratis setidaknya sebulan sekali. Melalui program ini, pengunjung diajak mengenal situs-situs bersejarah dengan pendekatan yang sehat, santai, dan menyenangkan.
Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, Museum Pleret hadir sebagai ruang refleksi dan pembelajaran. Sebuah museum kekinian yang mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal dan memahami akar sejarah Yogyakarta secara kontekstual. Dari Pleret, sejarah tidak hanya disimpan, tetapi terus dihidupkan dan diwariskan.
Humas Pemda DIY





