*Negeri tak tertolong
Guru2, yang sudah mengabdi puluhan tahun, yang benar2 sudah kongkrit dan nyata sumbangsihnya, tidak pernah kamu kasih motor. Yang ada, mereka harus survive dengan gaji rendah ala kadarnya.
Nakes2, bidan, perawat, dokter yang bekerja di garis terdepan, dengan segala cerita heroiknya, tidak pernah kamu kasih mobil bagus. Padahal mereka telah terbukti nyata membantu kehidupan. Mereka malah disuruh bertahan hidup dengan honor seadanya.
Sementara itu,
Wahai, proyek2 yang tidak jelas apakah bakal sukses atau nggak. Proyek2 yang sungguh2 TIDAK JELAS potensinya, lebih mirip mimpi di siang bolong, kamu kasih 100.000 mobil dengan begitu mudahnya. Cairkan uang!
Pun proyek2 yang penuh kontroversi, yg pemilik dapur, pegawai2nya telah dianggarkan duit triliunan juga, tetap kurang, kamu hadiahkan motor2 bagus, pun privilege lainnya. Buka itu brankas, cairkan uangnya! Beli!
Sungguh, my friend,
Cobalah sesekali pakai akal sehat. Maka mudah sekali memahami, jika begini terus cara kita menghargai orang2 yg betulan mengabdi pada bangsa, maka negeri ini boleh jadi tak akan tertolong.
Ini tuh bukan soal iri dengki, sirik. Ini tuh simpel soal logika sederhanaaa sekali. Masa’ kamu tidak paham juga? Tapi buat kalian, yang memang love sekebon dengan pemimpin pelaku KKN, yang ponakannya bisa dgn mudah masuk sana sini, yang anak mantu bisa dengan mudah diubah peraturannya, hal2 begini memang susah dipahami.
Dan apa hasilnya? 10-20 tahun berlalu, Indonesia tetap akan begini saja. 200 juta lebih penduduknya, tetap terbenam di garis kemiskinan. Rumah mereka tambah mengecil, tambah jauh dari pusat kota. Tanah2 sawah, kebun mereka semakin menyempit. Kualitas pekerjaan serabutan, bergaji rendah.
Dan anak2nya akan meneruskan situasi yg tidak lebih baik. Kamu nyadar nggak sih?
*Tere Liye, penulis novel “Teruslah Bodoh Jangan Pintar”





