Tegalrejo,REDAKSI17.COM – Tradisi Nyadran kembali digelar meriah dan penuh khidmat di Kampung Bener, Kemantren Tegalrejo, Minggu (8/2). Kegiatan yang dipusatkan di sekitar Masjid Muqorrobin Bener dan Makam Sasono Ngasem ini disambut antusias ratusan warga, bahkan sejak jauh hari sebelum acara puncak dilaksanakan.

Sebelum doa bersama dimulai, rangkaian Nyadran diawali dengan kirab budaya yang melibatkan Punakawan, Bregodo Rakyat, gunungan sayuran, gunungan kolak, ketan dan apem, ingkung, grup hadrah, serta masyarakat Kampung Bener. Kirab tersebut menjadi daya tarik tersendiri dan menambah kekhidmatan sekaligus kemeriahan tradisi tahunan ini.

Antusiasme warga terlihat dari keterlibatan aktif masyarakat yang secara gotong royong menyiapkan apem, ketan, dan kolak dan uborampe untuk dinikmati bersama setelah doa bersama selesai dilakukan. Kebersamaan ini menjadi cerminan kuatnya nilai sosial dan budaya yang masih terjaga di Kampung Bener.

Ketua Panitia Nyadran Kampung Bener, Muryono, menjelaskan bahwa tradisi Nyadran di Kampung Bener sejatinya telah dimulai sejak tahun 1977. Namun, perjalanan panjang tradisi ini sempat mengalami kevakuman hampir 25 tahun karena para pendirinya telah sepuh. Dukungan Takmir Masjid Muqorrobin menjadi titik awal kebangkitan kembali tradisi tersebut.

“Nyadran ini kita mulai lagi, meskipun sempat vakum pada 2019 hingga 2022 karena pandemi Covid-19. Tahun 2023 kita lanjutkan kembali, dan tahun 2026 ini menjadi sangat istimewa karena kita lengkapi dengan pawai budaya. Respons masyarakat sangat positif,” ujar Muryono.

Ia menambahkan, Nyadran merupakan tradisi Jawa turun-temurun yang bertujuan untuk mengingatkan manusia akan Sang Khalik serta mendoakan arwah leluhur yang telah mendahului.

Tahun ini, Nyadran Kampung Bener mengusung tema Eling lan Waspodo, Donga Bareng, Paseduluran Langgeng. Tema tersebut menegaskan nilai kebersamaan dan kerukunan lintas umat beragama. Doa bersama tidak hanya diikuti warga Muslim, tetapi juga dihadiri warga Katolik dan Kristen.

“Alhamdulillah, semua bisa rawuh dan berbaur. Ini menunjukkan kebersamaan dan kerukunan antarumat beragama di Kampung Bener,” katanya.

Ke depan, panitia berharap Nyadran dapat terus berkelanjutan dan semakin berkembang. Amanah dari Lurah Bener menjadi dorongan untuk melibatkan UMKM, kesenian lokal, Pokdarwis, serta seluruh elemen masyarakat agar pelaksanaan Nyadran tahun-tahun mendatang semakin meriah dan berdampak luas.

Salah satu warga Kampung Bener, Sri Susilowati, mengaku bersyukur dengan konsep Nyadran tahun ini yang berbeda dari sebelumnya.

“Nyadran tahun ini sangat berkesan karena berkolaborasi dengan budaya. Tidak monoton, ada kesenian dan pawai. Harapan kami, tahun depan bisa lebih baik lagi,” ujarnya.

Ia juga berharap potensi kesenian lokal seperti hadrah, jatilan, dan sanggar tari yang ada di wilayahnya dapat terus dilibatkan. Menurutnya, keterlibatan Bregodo Yudhotomo sebagai cucuk lampah pawai menjadi awal yang baik bagi pengembangan seni dan budaya lokal.

Sementara itu, Mantri Pamong Praja Kemantren Tegalrejo, Antariksa Agus Purnama, menyampaikan apresiasi atas konsep baru Nyadran Kampung Bener yang dinilai mampu melibatkan lebih banyak warga.

“Ini merupakan konsep yang baru, sehingga masyarakat tidak hanya datang ke makam, tetapi mengikuti rangkaian prosesi bersama. Dengan pelibatan warga yang lebih luas, pelaksanaannya menjadi lebih baik dan lebih bermakna,” ujarnya.

 

Menurut Antariksa, Nyadran merupakan tradisi turun-temurun yang mengandung nilai kearifan lokal yang perlu terus dijaga dan dilestarikan. “Ini adalah local wisdom, kebijakan lokal yang harus kita uri-uri sebagai bagian dari budaya bangsa, khususnya budaya masyarakat Jawa. Di dalamnya terdapat nilai pembelajaran dari generasi tua kepada generasi muda,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa esensi utama Nyadran adalah doa bersama yang dikemas dalam silaturahmi warga, sekaligus menjadi sarana pewarisan nilai-nilai sosial dan budaya kepada generasi penerus.

“Harapannya, tradisi ini terus terjaga dan ke depan keterlibatan generasi muda semakin banyak. Suatu saat merekalah yang akan melanjutkan peran para sesepuh, tentu dengan konsep yang menyesuaikan perkembangan zaman,” katanya.