KULON PROGO,REDAKSI17.COM – Menteri Keuangan Purbaya menyebut Badan Gizi Nasional (BGN) mengajukan usulan efisiensi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Efisiensi dilakukan dengan mengurangi jumlah penyaluran dari 6 menjadi 5 kali seminggu.
Rencana tersebut mendapat respons positif dari para orang tua pelajar di Kulon Progo. Seperti yang diungkapkan oleh W, orang tua pelajar asal Kapanewon Wates.
“Kalau saya pribadi sangat setuju dengan rencana efisiensi MBG,” katanya pada Kamis (26/03/2026).
Tepat, alihkan ke program yang lebih penting
W menilai rencana itu sudah tepat, karena anggaran hasil efisiensi bisa dialihkan ke program yang lebih penting untuk masyarakat. Terutama yang benar-benar menjadi kebutuhan utama sehingga lebih tepat sasaran.
Ia tak menampik bahwa MBG merupakan program yang bagus. Namun implementasinya terkesan memaksa karena menelan anggaran besar sampai harus memangkas program lainnya.
“Apalagi program MBG ini juga belum menyentuh masyarakat secara merata,” ujar W.
Selain belum merata dan anggaran yang terlalu besar, ia menilai MBG juga menimbulkan masalah baru. Seperti sisa makanan dalam jumlah besar.
Dari pada makanan terbuang sia-sia
Sebab menurut W, tidak semua menu yang diberikan akan dikonsumsi habis oleh pelajar sebagai penerima. Hal tersebut membuat makanan menjadi terbuang sia-sia, begitu juga anggaran yang digunakan.
“Lebih baik dananya dialihkan ke program layanan dasar masyarakat, termasuk infrastruktur,” jelasnya.
Hentikan permanen, alihkan ke siswa di wilayah terpencil
M, orang tua asal Kapanewon Sentolo juga setuju jika ada efisiensi program MBG. Ia bahkan berharap program besutan Presiden Prabowo Subianto itu dihentikan secara permanen.
Sebab ia menilai program yang harusnya bisa menyentuh pelajar di wilayah terpencil dan memiliki masalah gizi.
Sebaliknya, MBG malah diterima oleh pelajar yang kebutuhan gizinya sudah terpenuhi dari orang tuanya.
“Akhirnya hanya membuang-buang biaya saja,” kata M.




