Jakarta,REDAKSI17.COM – Pakar mengklaim, motor listrik buatan EMMO kurang ideal dipakai sebagai kendaraan operasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebab, selain masih baru, produsen tersebut juga belum punya jaringan di Indonesia.
Hal itu disampaikan Yannes Pasaribu selaku pengamat otomotif senior dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Bukan hanya dua alasan di atas, dia juga menyoroti tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) kendaraan yang cenderung masih kecil.
“Jelas tidak sepenuhnya ideal meski legal via e-Katalog LKPP. Emmo relatif baru (brand 2021), jaringan service masih terbatas, dan TKDN hanya 48,5% sehingga nilai tambah ekonomi rendah,” ujar Yannes Pasaribu saat dihubungi detikOto, Sabtu (11/4).
Seharusnya, untuk ukuran proyek bernilai triliunan rupiah, Badan Gizi Nasional (BGN) memilih motor lain yang jaringannya telah tersebar di mana-mana. Sebab, jika kendaraan dengan jaringan terbatas mengalami kerusakan, akan sulit melakukan perbaikan.
“Untuk proyek Rp 1,2 triliun yang melibatkan 21.801 unit operasional lapangan di seluruh Indonesia, faktor reliabilitas jangka panjang, suku cadang, dan after-sales sangat krusial,” tuturnya.
“Sehingga jika jejaring purna jual dan parts lain tidak siap dijamin risiko downtime lebih tinggi dibandingkan merek mapan lokal yang sudah lebih bagus jejaring 3S-nya,” tambahnya.
Di kesempatan yang sama, Yannes juga mengkritik keputusan BGN memilih motor listrik jenis trail sebagai kendaraan operasional MBG. Dia menganggap, kendaraan model tersebut akan sulit dikendarai ibu-ibu atau kaum hawa.
“Secara fungsional motor trail bisa diterima karena dirancang khusus untuk medan berat di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) yang menjadi sasaran utama distribusi makanan bergizi,” ungkapnya.
“Tapi dari sisi ergonomis, kenyamanan, dan kesesuaian budaya, kurang ideal ya. Terutama bagi pengendara perempuan atau ibu-ibu berbusana muslim yang lebih terbiasa dengan skuter matik kecil,” kata dia menambahkan.
Sumber : detik. Com





