Home / Tokoh Kita / Pangeran Purbaya: Sang Putra Terbuang yang Menjadi Benteng Mataram

Pangeran Purbaya: Sang Putra Terbuang yang Menjadi Benteng Mataram

Oleh: M. Basyir Zubair
“Ia tidak duduk di atas singgasana. Tapi tanpa dia, singgasana itu tidak akan pernah berdiri.”
Di sisi selatan Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, di antara deru pesawat dan riuh lalu lintas modern, berdiri sebuah kompleks yang seolah menolak kebisingan zaman: Masjid Sulthoni dan Makam Wotgaleh. Tidak ada papan reklame mencolok. Tidak ada sorotan kamera wisata. Namun di sinilah tersimpan salah satu kisah paling menyayat dalam sejarah Mataram Islam, kisah seorang putra yang dibuang, dikhianati, namun tetap membaktikan hidupnya untuk kerajaan sang ayah.
Ia bernama Jaka Umbaran. Dunia mengenalnya sebagai Pangeran Purbaya.
I. Wahyu yang Diminum Diam-diam: Awal dari Segalanya
Semuanya bermula dari sebuah kelapa muda dan dua orang sahabat.
Dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi, suatu hari Ki Ageng Giring, seorang tokoh spiritual dari Gunung Kidul, mendapat wahyu yang luar biasa: pohon kelapanya yang bertahun-tahun tidak berbuah akhirnya mengeluarkan satu buah saja. Dan siapa pun yang meminum air kelapa itu, keturunannya akan menjadi raja-raja besar di tanah Jawa.
Ki Ageng Giring bergegas pulang untuk meminumnya sendiri. Namun takdir berkata lain. Di tengah jalan, ia bertemu sahabatnya, Ki Ageng Pemanahan, yang datang bertamu dalam keadaan sangat kehausan setelah menempuh perjalanan panjang. Tanpa pikir panjang, dan tentu tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya ada di dalam tempurung itu, Ki Ageng Pemanahan meneguk habis air kelapa itu dalam satu kali tegukan.
Ki Ageng Giring tertunduk. Bukan karena marah. Tapi karena ia tahu: wahyu itu telah berpindah. Takdir kerajaan telah beralih ke trah Pemanahan. Dengan jiwa seorang kesatria, ia tidak meratap lama. Ia justru menawarkan sebuah jalan tengah yang elegan: agar wahyu itu tidak sepenuhnya lepas dari darahnya, anaknya yang bernama Rara Lembayung dinikahkan dengan putra Ki Ageng Pemanahan, Danang Sutawijaya, sang bocah yang kelak akan mengguncang sejarah Jawa.
Secara akademis, kisah ini merupakan narasi legitimasi kekuasaan atau dalam bahasa ilmiahnya pulung, yang jamak ditemukan dalam tradisi Jawa. M.C. Ricklefs (2008) mencatat bahwa konstruksi mitos semacam ini bukan sekadar dongeng, melainkan instrumen politik yang sangat efektif untuk membangun konsensus atas klaim kekuasaan. Namun di balik arsitektur politik itu, ada denyut manusia yang jauh lebih menyentuh.
II. Jaka Umbaran: Lahir dari Luka yang Belum Sembuh
Pernikahan Danang Sutawijaya dan Rara Lembayung seharusnya menjadi babak indah dari sebuah persahabatan dua keluarga besar. Kenyataannya berbeda secara tragis.
Sutawijaya, sang lelaki yang tengah berapi-api mengejar cita-cita besar, dari menumpas Arya Penangsang hingga melawan ayah angkatnya sendiri, Sultan Hadiwijaya dari Pajang, tidak pernah sungguh-sungguh mencintai Rara Lembayung. Ia menganggap sang istri buruk rupa, lebih tua, dan tidak sesuai dengan citra permaisuri kerajaan yang ia impikan.
Maka Sutawijaya pun pergi. Begitu saja. Meninggalkan Rara Lembayung yang sedang mengandung benih kehidupan, benih yang tidak pernah ia akui sebagai miliknya.
Bayi itu lahir tanpa ayah. Oleh ibunya yang hancur hati namun tidak hancur jiwa, ia diberi nama Jaka Umbaran. Jaka artinya pemuda. Umbaran artinya terlantar, dibiarkan mengembara sendiri. Sebuah nama yang menyimpan seluruh derita seorang ibu yang ditinggalkan, sekaligus harapan bahwa sang anak akan menemukan jalannya sendiri di dunia.
Rara Lembayung yang kemudian lebih dikenal sebagai Kanjeng Ratu Giring, membesarkan Jaka Umbaran seorang diri. Tidak ada kemewahan keraton, tidak ada gelar kebangsawanan, tidak ada pengakuan resmi dari sang ayah yang kini telah bertahta sebagai Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam.
Sementara Jaka Umbaran tumbuh dalam kesunyian dan pertanyaan besar: siapa ayah kandungku?
III. Teka-teki Keris Tanpa Warangka: Harga Sebuah Pengakuan
Ketika Jaka Umbaran menanjak dewasa, ia tidak bisa lagi mengabaikan pertanyaan yang menghantui tidurnya setiap malam. Ada dua versi cerita mengenai bagaimana ia akhirnya mengetahui siapa sang ayah. Versi pertama: Kanjeng Ratu Giring sendiri yang dengan berat hati membuka rahasia itu. Versi kedua: sang ibu memberikan teka-teki, ‘Carilah seorang pria yang memiliki alun-alun di sebuah kerajaan besar.’
Dengan bekal keberanian yang mungkin menurun dari darah sang ayah, Jaka Umbaran berangkat menuju pusat Mataram. Sesampainya di sana, ia dengan sengaja membuat onar, masuk tanpa izin, menantang penjaga, mencari perhatian, sampai akhirnya ia ditangkap dan dihadapkan langsung kepada Panembahan Senopati.
Dan di sinilah drama sesungguhnya dimulai. Senopati, sang raja yang terbiasa bicara dalam simbol dan tanda, tidak langsung mengakui sang anak. Ia justru mengajukan sebuah teka-teki: ‘Aku memiliki keris tanpa warangka. Tanyakan kepada ibumu, di manakah sarung keris itu berada.’
Bagi yang memahami filosofi Jawa, ini bukan teka-teki biasa. Keris dalam tradisi Jawa adalah simbol jiwa laki-laki, kekuatan, dan kehormatan. Warangka, sarungnya, adalah penyeimbang, pelindung, sekaligus penyempurna. Manungaling keris lan warangka melambangkan persatuan antara kekuatan dan kebijaksanaan, antara dunia laki-laki dan perempuan, antara masa lalu dan masa depan.
Namun ada tafsir yang jauh lebih gelap dan lebih kelam: teka-teki itu adalah perintah halus, atau mungkin tidak terlalu halus, untuk menghapus aib. Kanjeng Ratu Giring, sang istri pertama yang ‘tidak diakui,’ adalah satu-satunya saksi yang tersisa atas noda lama Senopati. Selama ia hidup, bayangan masa lalu itu akan selalu mengikuti sang raja.
Jaka Umbaran kembali ke kediaman ibunya. Ia menceritakan segalanya, perjalanan panjangnya, pertemuan dengan sang ayah, dan teka-teki yang belum terjawab. Kanjeng Ratu Giring mendengarkan dalam diam yang sangat panjang. Dan kemudian ia memahami.
Dengan sebuah keris pusaka terhunus di tangannya, Kanjeng Ratu Giring melangkah maju ke arah Jaka Umbaran. Matanya tidak menangis. Bibirnya berucap dengan tenang dan penuh cinta yang tak terbatas: ‘Demi kemuliaanmu, anakku terkasih.’
Jaka Umbaran, barangkali tanpa sempat memahami apa yang terjadi, atau barangkali karena ia tahu dan tidak bisa melakukan apa pun, mendorong tubuh ibunya. Keris itu menusuk dada Kanjeng Ratu Giring. Itulah warangka yang dicari. Itulah jawaban teka-teki Senopati.
Kematian seorang ibu sebagai harga pengakuan anaknya. Moedjanto (1987) mencatat bahwa hierarki keraton masa Mataram memang sesadis itu, legitimasi seorang pangeran dari ‘darah yang tidak setara’ hanya bisa diperoleh melalui pengorbanan yang tidak masuk akal bagi logika modern.
IV. Sang Senopati yang Tak Bermahkota: Loyal di Tengah Luka
Dengan hati yang remuk dan tangan yang mungkin masih gemetar, Jaka Umbaran kembali menghadap Panembahan Senopati. Teka-teki telah terjawab. Pengorbanan telah dilakukan. Maka jadilah ia Pangeran Purbaya, putra yang diakui, meski dengan cara yang paling tragis yang bisa dibayangkan.
Namun satu luka belum sembuh: takhta.
Meskipun Pangeran Purbaya adalah putra sulung Senopati, putra pertama yang lahir dari darahnya, singgasana Mataram tidak pernah diperuntukkan baginya. Ada dua narasi yang beredar. Pertama, Senopati memang tidak berkenan menjadikannya pewaris karena status ibunya yang ‘tidak diakui sebagai istri sah.’ Kedua, Purbaya sendiri yang menolak, karena hati yang terluka jauh lebih kuat dari ambisi kekuasaan.
Dalam tradisi Mataram, putra mahkota idealnya lahir dari garwa padmi, permaisuri utama. Karena kedudukan Kanjeng Ratu Giring yang dianggap istri dari masa ‘sebelum kerajaan,’ Purbaya kehilangan hak konstitusionalnya. Takhta jatuh kepada Raden Mas Jolang yang kemudian bergelar Panembahan Hanyakrawati.
Tapi inilah yang membuat Pangeran Purbaya menjadi figur yang luar biasa dalam sejarah Jawa: ia tidak memberontak. Ia tidak melarikan diri. Ia tidak meracuni pikiran para pengikutnya dengan dendam.
Ia memilih mengabdi. Sepenuh jiwa.
Dalam catatan Belanda dari De Graaf (1986), nama Pangeran Purbaya muncul berulang kali sebagai ‘sosok senior yang sangat berpengaruh dan disegani di lingkungan keraton Mataram.’ Ia menjadi panglima perang yang tangguh sejak era Senopati. Di masa Sultan Agung, raja terbesar Mataram, Purbaya adalah benteng pertahanan paling diandalkan. Ketika Sultan Agung melancarkan serangan besar-besaran ke Jayakarta (cikal bakal Jakarta) pada awal abad ke-17, Pangeran Purbaya ada di garis depan.
Di masa Amangkurat I, raja penerus Sultan Agung yang dikenal paranoid dan brutal, Purbaya bahkan nyaris dibunuh, sebuah ancaman yang menunjukkan betapa besar pengaruh sang pangeran, sampai-sampai raja pun merasa terancam olehnya.
V. Gugur di Kediri: Pertanyaan yang Belum Terjawab Sepenuhnya
Tahun 1676. Pemberontakan Trunajaya, seorang pangeran Madura yang berkoalisi dengan pasukan Makassar, mengguncang Mataram hingga ke akar-akarnya. Di tengah kekacauan itu, seorang Pangeran Purbaya gugur di medan perang Kediri. Dan di sinilah perdebatan sejarah yang hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan.
Jika yang gugur di Kediri pada 1676 adalah Jaka Umbaran, putra Senopati yang lahir sekitar 1570-an, maka usianya saat gugur adalah lebih dari seratus tahun. Sebuah angka yang secara biologis sangat tidak lazim, meskipun dalam tradisi lisan Jawa, umur panjang seorang tokoh sakti bukanlah hal yang mustahil.
De Graaf (1986) sendiri cenderung berpendapat bahwa sosok yang gugur di Kediri adalah Pangeran Purbaya II, kemungkinan cucu dari Jaka Umbaran, atau putranya yang mewarisi gelar dan jabatan yang sama. Dalam tradisi keraton Mataram, gelar ‘Pangeran Purbaya’ bisa jadi merupakan jabatan, pangeran sepuh, pelindung takhta, yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Hal ini bukan fenomena langka dalam sejarah Jawa. Nama-nama besar seperti Adipati Anom, Purbaya, atau Rangga sering kali adalah gelar yang melampaui satu individu, menyebabkan batas biologis antar-generasi melebur dalam narasi rakyat. Satu nama, satu legenda, namun mungkin lebih dari satu manusia.
Namun bagi masyarakat di sekitar Wotgaleh, semua perdebatan akademis itu terasa kurang penting. Yang mereka yakini, dan yang mereka hormati, adalah: di sinilah bersemayam sang tokoh besar itu. Jaka Umbaran. Pangeran Purbaya. Putra yang terbuang namun setia sampai akhir hayatnya.
VI. Wotgaleh dan Warisan yang Tidak Pernah Padam
Nama Wotgaleh sendiri menyimpan puisi yang indah. Secara etimologis, wot berarti jembatan dan galeh berarti kayu jati yang kuat, atau dalam tafsir lain, galeh merujuk pada ‘hati.’ Wotgaleh: jembatan yang kuat, jembatan hati. Nama yang tepat sekali untuk sosok yang sepanjang hidupnya menjadi penghubung, antara masa lalu dan masa depan Mataram, antara luka dan kesetiaan, antara darah dan pengabdian.
Makam ini kini masuk wilayah Berbah, Sleman, dan merupakan tanah milik Keraton Kasultanan Yogyakarta. Masjid Sulthoni yang berdiri di sebelahnya menjadi saksi bisu bahwa tempat ini bukan sekadar pemakaman, ia adalah ruang sakral, titik temu antara yang fana dan yang abadi.
Di seberang kota, nama Pangeran Purbaya diabadikan dalam Kampung Purbayan, kawasan di timur Pasar Kotagede, tempat sang pangeran pernah tinggal di dalam lingkup beteng keraton. Setiap kali nama kampung itu disebut, tanpa disadari kita sedang mengucapkan sebuah penghormatan kepada sosok yang tidak pernah menuntut lebih dari apa yang menjadi haknya.
Dan mungkin itulah pelajaran terbesar dari Pangeran Purbaya: bahwa kekuasaan dan kemuliaan bukan selalu soal siapa yang duduk di atas singgasana. Kadang, yang paling mulia adalah mereka yang memilih berdiri di belakang, menopang, melindungi, dan menjaga, meski tidak pernah mendapat pengakuan yang sepantasnya.
Penutup: Sebuah Nama yang Terus Berdenyut
Di era media sosial dan konten viral, kisah Pangeran Purbaya seharusnya jauh lebih dikenal daripada banyak cerita kepahlawanan yang sudah lebih dulu populer. Ini bukan sekadar kisah kerajaan tempo dulu, ini adalah cerita tentang luka pengabaian, tentang ibu yang mengorbankan nyawa demi masa depan anaknya, tentang anak yang menanggung dosa yang bukan miliknya, dan tentang manusia yang memilih kesetiaan di atas dendam.
Makam Wotgaleh berdiri tenang, tidak jauh dari keramaian. Sesekali dikunjungi peziarah. Sesekali dilupakan oleh zaman yang berlari terlalu cepat. Tapi kisah yang tersimpan di balik batu nisannya tidak akan pernah berhenti relevan, karena ia bicara tentang hal yang paling manusiawi dari semua hal: rasa sakit yang diubah menjadi pengabdian.
“Kemenangan sejati bukan selalu berarti duduk di atas singgasana. Terkadang, kemenangan adalah menjadi tiang penyangga yang tetap berdiri teguh, meski tidak pernah benar-benar diakui.”
Daftar Pustaka
De Graaf, H.J. (1986). Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung. Jakarta: Pustaka Grafitipers.
Moedjanto, G. (1987). Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius.
Olthof, W.L. (Red). (2007). Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. Yogyakarta: Narasi.
Ricklefs, M.C. (2008). A History of Modern Indonesia since c. 1200. Stanford University Press.
Soeratman, D. (1989). Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830–1939. Yogyakarta: Taman Siswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *