UMBULHARJO,REDAKSI17.COM — Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta bekerja sama dengan puskesmas di wilayah Kota Yogyakarta tengah melaksanakan program pemberian fluoride varnish kepada siswa SD, SMP, hingga SMA. Program ini merupakan tindak lanjut dari skrining kesehatan gigi yang rutin dilakukan setiap tahun ajaran.
Hal ini diungkapkan oleh, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Iva Kusdyarini, hingga 31 Desember 2025 sebanyak 743 anak telah mendapatkan aplikasi fluoride. Pelaksanaan dilakukan secara bertahap karena ketersediaan bahan medis habis pakai (BMHP) dan fluoride berasal dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit dan Direktorat Penyakit Tidak Menular.
Dalam skrining kesehatan gigi sekolah, petugas memeriksa kondisi gigi dan mulut anak untuk mendeteksi dini karies, penyakit gusi, serta kebersihan rongga mulut.
Pihaknya menjelaskan, karies gigi merupakan penyakit infeksi kronis yang menyebabkan kerusakan struktur jaringan keras gigi (email, dentin, sementum).
Sehingga jika anak yang ditemukan karies akan dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) puskesmas untuk perawatan. Namun jika tidak terkena karies mendapat tindakan preventif berupa pemberian fluoride varnish.
Sementara itu, Fluoride varnish adalah bahan cair konsentrasi tinggi yang dioleskan pada permukaan gigi untuk mencegah gigi berlubang (karies), memperkuat email, dan mengurangi sensitivitas gigi.
Menurut Dr. Iva, program ini tidak sekadar pemeriksaan namun sebagai bentuk pencegahan terhadap timbulnya karies pada siswa. “Tujuannya mencegah komplikasi gigi yang lebih berat, meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan gigi, serta edukasi pola hidup sehat. Meski terlihat ringan, penyakit gigi bisa berakibat fatal bila tidak ditangani sejak dini,” ujarnya.
Selain pada pelajar, pemerintah juga sedang  mengintensifkan pemeriksaan status kesehatan gigi masyarakat.  Terutama bagi kelompok balita atau prasekolah, dewasa, dan lansia.
Program ini merupakan bagian dari Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang sebenarnya sudah berjalan setiap tahun, namun kini diperkuat dalam paket Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Pihaknya menjelaskan, petugas menemukan karies pada siswa dipengaruhi beberapa faktor utama diantaranya, siswa mengkonsumsi makanan manis dan lengket, sisa makanan yang menghasilkan asam bakteri, kebersihan gigi yang buruk, jarang menyikat gigi serta mengalami mulut kering.
“Asam dari bakteri merusak enamel gigi sehingga terbentuk lubang. Karena itu, pencegahan menjadi prioritas utama. Program ini menyasar seluruh anak usia sekolah 7–18 tahun atau SD hingga SMP dengan pemeriksaan gratis yang dilaksanakan di sekolah,” ungkapnya.
Kegunaan pemberian Fluoride berfungsi untuk memperkuat enamel gigi, mencegah karies membantu remineralisasi gigi, mengurangi sensitivitas pada gigi.
Aplikasi dilakukan oleh dokter gigi atau terapis menggunakan fluoride NaF 5%, kemudian diulang setiap enam bulan sesuai evaluasi risiko karies.
Sementara itu, pemberian fluoride juga sudah dilakukan oleh Puskesmas Danurejan I di salah satu sekolah yakni di SD Negeri Tegalpanggung.
Kepala Puskesmas Danurejan I, dr. Dewi Widowati menjelaskan, pemberian fluoride merupakan langkah baru setelah bertahun-tahun hanya melakukan pemeriksaan. “Yang dioles justru gigi sehat untuk mencegah kerusakan. Kalau sudah keropos harus ditangani dulu,” katanya.
Namun pelaksanaan masih terbatas karena jumlah bahan. Satu botol hanya cukup sekitar 20 anak dan diberikan dua kali, sehingga sekolah dipilih secara bertahap.
“Kami diberi 10 botol cukup untuk 200 siswa. sebelum pengolesan, siswa mendapat penyuluhan dan praktik sikat gigi bersama. Setelah gigi dibersihkan dan dikeringkan, lapisan fluoride dioleskan dan didiamkan sekitar tiga menit. Kegunaan pengolesan ini untuk melindungi gigi mereka,” katanya.
Ia berharap, pihak sekolah dan orang tua mendukung program ini, terutama memberi izin tindak lanjut bila anak perlu perawatan lanjutan.