KOTAGEDE,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta berupaya memperkuat kesiapsiagaan sekolah menghadapi potensi bencana lewat program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Pada tahun ini Pemkot Yogyakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menambah pembentukan SPAB di 7 SD Negeri di Kota Yogyakarta. Melalui SPAB diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan bencana untuk mewujudkan sekolah yang aman, tangguh dan siap menghadapi potensi bencana.

Salah satu kegiatan pembentukan SPAB adalah simulasi bencana. Seperti kegiatan simulasi bencana di SDN Gedongkuning yang menjadi salah satu sekolah sasaran pembentukan SPAB tahun 2026 di Kota Yogyakarta. Ratusan murid SD Negeri Gedongkuning berhamburan keluar saat suara sirine berbunyi menandakan terjadi gempa bumi. Mereka langsung berlindung di bawah meja. Kemudian dievakuasi keluar gedung sekolah. Sebagian murid mengalami luka-luka. Para guru, kepala sekolah dan lainnya sigap mengevakuasi dan menyelamatkan murid-murid.

Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan dan Data Informasi Komunikasi Kebencanaan BPBD Kota Yogyakarta Iswari Mahendrarko mengatakan pembentukan SPAB tahun 2026 sudah direncanakan sampai 5 tahun ke depan. Dalam pembentukan SPAB, BPBD Kota Yogyakarta juga berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kota Yogyakarta.

Murid-murid diaarahkan berlindung di bawah meja saat terjadi gempa bumi dalam kegiatan simulasi bencana program SPAB di SD Negeri  Gedongkuning.

“Jadi 2026 ini kita targetnya tujuh SD. Beberapa SD yang kita prioritaskan (SPAB) terlebih dahulu adalah SD-SD yang memang tingkat kerawanan berada di kawasan rawan bencana,” kata Iswari ditemui saat simulasi bencana di SD Negeri Gedongkuning, Jumat (9/1/2026).

Sebanyak 7 SD Negeri yang menjadi sasaran program SPAB tahun 2026 meliputi SD Negeri Gedongkuning, SD Negeri Gedongtengen, SD Negeri Jetisharjo, SD Negeri Bumijo, SD Negeri Sindurejan, SD Negeri Balirejo, dan SD Negeri Tahunan. Dia menyebut  jika sasaran  7 SD tersebut  selesai pada 2026, maka tahun ini total sudah menyelesaikan SPAB di 21 SD Negeri.

Iswari menjelaskan pembentukan SPAB dimulai dengan pemberian materi terkait lingkungan sekolah yang aman, terutama sarana prasarananya. Baik itu struktur bangunan, maupun petunjuk arah jalur evakuasi dan titik kumpul. Di samping itu terkait manajemen kesiapsiagaan sekolah dan edukasi seperti pelatihan maupun simulasi bencana yang melibatkan guru sampai murid di sekolah.

Para guru dan warga sekolah melakukan evakuasi murid yang terluka dalam simulasi bencana gempa bumi. 

“Ketika ada bencana sudah tahu siapa yang melakukan apa, siapa saja yang nanti terlibat. Jadi mereka (sekolah) harus membentuk seperti tim siaga. Kemudian ada edukasi, dalam artian bahwa pelatihan ini diharapkan tidak hanya untuk guru-guru saja tapi juga  murid terlibat. Pada hari ini simulasi  bencana kita melibatkan anak-anak didik sekolah,” terangnya.

Sementara itu Kepala Sekolah SD Negeri Gedongkuning, Wiwin  Prihandiningsih menyampaikan tahun ini menjadi salah satu sekolah yang ditunjuk BPBD Kota Yogyakarta untuk melaksanakan kegiatan SPAB. Pihaknya menyambut baik selama kegiatan SPAB sehingga bisa mendapatkan masukan terkait kesiapsiagaan sekolah menghadapi jika terjadi bencana. Menurutnya potensi bencana di SD Negeri Gedongkuning adalah gempa bumi dan kebakaran karena sekolah berada di daerah padat penduduk dan lahan tidak luas. SD Negeri Gedongkuning memiliki sekitar 333 murid sehingga harus dilatih kesiapsiagaan bencana.

“Selama tiga hari ini kita telah diberikan  banyak sekali materi terkait dengan segala macam kebencanaan. Harapannya kami mempunyai kesiapan jika suatu saat ada bencana kita dapat mengurangi risiko yang akan terjadi,” pungkas Wiwin.