Di balik gemuruh heroik Pertempuran 10 November 1945, tersimpan kisah kepahlawanan sunyi seorang dokter yang jasanya tak kalah monumental: dr. Mohamad Soewandhi. Saat mesiu meledak dan darah membasahi bumi Kota Pahlawan, dr. Soewandhi mempertaruhkan nyawa dan kariernya untuk menyelamatkan ribuan pejuang yang terluka parah. Inilah epik dedikasi kemanusiaan di tengah tragedi revolusi fisik Indonesia.
Benteng Terakhir Kemanusiaan di RS Simpang,Dr. Mohamad Soewandhi, seorang dokter di Rumah Sakit Umum Pusat (CBZ Simpangsche, kini RSUD dr. Soetomo), menolak mundur ketika tentara Sekutu (AFNEI dan NICA) mulai melancarkan serangan besar-besaran pasca tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby. Sementara banyak fasilitas lumpuh dan warga mengungsi, dr. Soewandhi, bersama Kepala RS dr. Soetopo, mengubah rumah sakit menjadi benteng pertahanan medis.
Peran heroiknya mencapai puncak ketika kondisi Surabaya kian memanas. Dengan bombardir artileri dan tembakan sporadis di mana-mana, RS Simpang kebanjiran korban. Dr. Soewandhi bekerja tanpa lelah, memimpin tim medis darurat yang beroperasi di bawah ancaman konstan. Fokusnya bukan hanya mengobati luka tembak, tetapi juga mengkoordinir seluruh urusan logistik dan perawatan di tengah kekacauan.
Momen paling krusial terjadi saat evakuasi paksa ribuan pejuang yang terluka. Ketika posisi pejuang Surabaya terdesak, dr. Soewandhi mengambil keputusan berani untuk mengevakuasi sekitar 3.000 pasien dan tenaga medis keluar dari kota yang terkepung. Evakuasi ini berlangsung selama lima hari, menggunakan kereta api dari Stasiun Gubeng. Ia memastikan setiap pejuang yang terluka mendapat perawatan terbaik selama perjalanan pelarian tersebut, sebuah misi logistik dan kemanusiaan yang nyaris mustahil di bawah pengawasan ketat dan ancaman tentara musuh. Tindakan ini menyelamatkan ribuan nyawa yang, tanpanya, mungkin akan gugur sia-sia.
Tragedi dalam kisah dr. Soewandhi terletak pada sifat pengorbanannya yang sunyi dan seringkali terabaikan dalam narasi besar pertempuran. Sebagai tenaga kesehatan, “medis atau palang merah,” perjuangannya tidak di garis depan dengan senjata, melainkan perjuangan tanpa henti melawan kematian, kelelahan, dan keterbatasan fasilitas medis di masa perang.
Aspek tragis lainnya adalah nasib para pejuang yang tidak tertolong, terlepas dari segala upaya heroiknya. Di tengah gempuran, banyak korban berjatuhan, dan keterbatasan obat-obatan serta fasilitas seringkali membuat tim medis berhadapan dengan situasi tanpa harapan. Ia harus menghadapi dilema etis dan realitas brutal perang, di mana nyawa melayang di depan matanya meskipun telah melakukan segala daya upaya.
Kisah tragis ini juga tercermin dari kenyataan bahwa, meskipun jasanya sangat besar dan diabadikan sebagai nama rumah sakit besar di Surabaya (RSUD dr. Mohamad Soewandhie), detail perjuangan pribadinya seringkali hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah Pertempuran 10 November yang didominasi oleh tokoh-tokoh orator dan militer. Pengorbanannya adalah pengorbanan pahlawan kemanusiaan yang memilih untuk tetap tinggal di posnya saat kota terbakar, sebuah pilihan yang penuh risiko dan beban emosional mendalam.
Dr. Soewandhi adalah bukti nyata bahwa medan juang kemerdekaan tidak hanya di garis depan pertempuran, tetapi juga di meja operasi darurat, di mana belas kasih dan keahlian medis menjadi senjata paling ampuh melawan kekejaman perang.
Sumber: Artikel ini disusun berdasarkan sintesis data dari berbagai sumber sejarah dan arsip berita, termasuk ulasan dari media lokal dan nasional mengenai peran dr. Soewandhi dalam Pertempuran 10 November di Surabaya. Untuk informasi lebih lanjut, pembaca dapat merujuk pada arsip sejarah di detikcom atau Radar Surabaya.




