Home / Nasional dan Internasional / Perang AS-Iran Picu Risiko Energi, Pakar Soroti Kesiapsiagaan RI

Perang AS-Iran Picu Risiko Energi, Pakar Soroti Kesiapsiagaan RI

JAKARTA,REDAKSI17.COM — Eskalasi perang antara aliansi Israel-Amerika Serikat melawan Iran telah mendorong fluktuasi atau bahkan kenaikan harga minyak dunia. Di tengah situasi tersebut, pemerintah Indonesia didorong untuk mengambil langkah-langkah antisipatif yang lebih memadai.

Pakar energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Fahmy Radhi menilai, respons pemerintah terhadap situasi perang tersebut belum cukup optimal. Menurutnya, ketika sejumlah negara seperti Jepang, Filipina, dan Thailand telah menyiapkan langkah-langkah preventif, Indonesia terkesan belum menunjukkan kesiapsiagaan yang kuat.

Sejauh ini, lanjut dia, pemerintah masih menyebut bahwa kondisi pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional masih aman dan tidak akan mengubah harga BBM. Akan tetapi, Fahmy mengingatkan, situasi global yang tidak menentu tetap harus diantisipasi.

“Ini bahaya juga kalau perang (AS/Israel-Iran) terus berlanjut kemudian harga BBM terpaksa harus dinaikkan dan kita terjadi krisis. Ini akan menimbulkan kekecewaan rakyat,” ujar Fahmy dalam keterangannya kepada Republika, Senin (30/3/2026).

Sejauh ini, pemerintah telah mewacanakan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) serta percepatan penggunaan kendaraan listrik. Namun, Fahmy menilai, langkah-langkah tersebut tidak akan efektif untuk merespons tekanan pasokan energi dalam jangka pendek.

Ia memperkirakan, kebijakan WFH hanya mampu menghemat energi sekitar 10 persen. Hal itu dengan catatan, mobilitas masyarakat akan tetap sulit dikendalikan sepenuhnya meskipun mereka “diharuskan” bekerja dari rumah. Di sisi lain, transisi ke kendaraan listrik dinilai sebagai solusi jangka panjang yang implementasinya tidak bisa instan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *