Dubai,REDAKSI17.COM – Perang yang berkecamuk di Timur Tengah kini memicu skenario “mimpi buruk” bagi sistem energi global. Konflik ini telah memangkas pasokan energi secara drastis, memaksa konsumen di seluruh dunia membayar harga yang jauh lebih mahal sekaligus mengurangi konsumsi secara paksa.
Penutupan efektif Selat Hormuz, jalur urat nadi di sepanjang pantai Iran telah menghentikan 20 persen lalu lintas minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Hal ini terjadi sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan timbal balik antara Iran dan Israel telah menargetkan infrastruktur energi vital. Ladang gas, kilang minyak, hingga terminal ekspor mengalami kerusakan parah yang diprediksi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.
Badan Energi Internasional (IEA) menyebut fenomena ini sebagai gangguan energi global terburuk dalam sejarah, melampaui efek embargo minyak Arab tahun 1973.
“Anda tidak akan bisa mengatasi ini hanya dengan penghematan. Yang akan terjadi adalah kenaikan harga yang cukup tinggi sehingga orang berhenti mengonsumsi,” ungkap Dan Pickering, Chief Investment Officer Pickering Energy Partners.
Hingga saat ini, krisis telah melenyapkan sekitar 400 juta barel dari pasar atau setara dengan empat hari pasokan dunia dan memicu lonjakan harga hingga 50 persen.
Harga minyak acuan global melambung melampaui US$ 110 per barel. Namun, dampaknya jauh lebih destruktif pada minyak mentah Timur Tengah yang menjadi tumpuan ekonomi Asia, dengan harga mencetak rekor mendekati US$ 164.
Krisis ini menjadi beban politik berat bagi Presiden AS Donald Trump. Di tengah upayanya membenarkan keterlibatan militer AS, Trump menyerang sekutu NATO yang dianggap kurang memberi dukungan. Ia bahkan melabeli sekutu lama AS tersebut sebagai “pengecut”.
Kenaikan harga bahan bakar memaksa pemerintah di seluruh dunia mengambil langkah darurat:
- Thailand: Melarang perjalanan luar negeri bagi pegawai negeri dan membatasi penggunaan lift.
- Sri Lanka: Memberlakukan penjatahan bahan bakar secara ketat.
- Tiongkok: Menghentikan total ekspor bahan bakar olahan.
- Inggris: Berencana mengurangi batas kecepatan kendaraan demi menghemat bensin.
Analis JP Morgan, Natasha Kaneva, memperingatkan bahwa dunia sedang menghadapi kekurangan produk yang akut. Di Eropa, harga bahan bakar jet mencapai rekor US$ 220 per barel, yang dipastikan akan melambungkan harga tiket pesawat.
Selain energi, perang ini mengancam ketahanan pangan dunia. Sekitar sepertiga perdagangan pupuk global yang biasanya melewati Selat Hormuz kini terhenti total.
Harga produk berbasis nitrogen seperti urea telah naik hingga 40 persen. Maximo Torero, Kepala Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut, pasokan sereal pokok, pakan ternak, hingga daging dan susu akan terganggu secara signifikan.
“Ini akan memengaruhi penanaman. Akan ada pasokan komoditas yang lebih rendah di dunia,” jelas Torero. Mengingat setengah dari makanan dunia ditanam menggunakan pupuk, krisis ini berpotensi memicu bencana kelaparan di berbagai belahan dunia.
Sekretaris Jenderal Uni Gas Internasional, Menelaos Ydreos mendesak segera dihentikannya penargetan fasilitas energi. “Pupuk, petrokimia, minyak, hingga biji-bijian sangat penting bagi keberadaan kita,” pungkasnya dalam sebuah pernyataan resmi.





