Home / Daerah / Perayaan Garebeg Syawal Tahun Ini Tanpa Gajah

Perayaan Garebeg Syawal Tahun Ini Tanpa Gajah

Sumber : Humas Pemda DIY

 

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Perayaan Garebeg Syawal, salah satu hajad dalem paling sakral di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, kembali digelar pada Lebaran tahun 2026. Tradisi yang sudah berusia ratusan tahun ini selalu menjadi magnet bagi masyarakat Yogyakarta maupun wisatawan dari berbagai daerah. Namun, ada hal baru yang cukup mencuri perhatian: untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Garebeg, prosesi kirab tidak lagi menghadirkan gajah atau liman yang biasanya menjadi ikon utama.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Keraton Yogyakarta menyesuaikan diri dengan regulasi pemerintah, tepatnya Surat Edaran Nomor 6 Tahun 2025 yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan. Surat edaran tersebut menegaskan penghentian peragaan gajah tunggang di lembaga konservasi demi menjaga kesejahteraan satwa.

Dengan demikian, keraton menunjukkan sikap adaptif: tetap melestarikan tradisi, tetapi juga patuh pada aturan pelestarian alam. Kehadiran gajah dalam prosesi Garebeg selama ini memang menjadi daya tarik tersendiri. Banyak masyarakat yang menunggu momen langka melihat hewan besar itu berjalan anggun di tengah arak-arakan prajurit dan gunungan hasil bumi. Kini, meski gajah tidak lagi tampil, keraton memastikan kemeriahan dan kekhidmatan acara tetap terjaga.

Rangkaian Acara Garebeg Sawal Rangkaian Garebeg Sawal Dal 1959 dimulai jauh sebelum puncak acara. Pada Sabtu, 14 Maret 2026, digelar gladi bersih bregada prajurit yang akan mengawal prosesi. Kemudian, pada Selasa, 17 Maret, masyarakat dapat menyaksikan ritual Numplak Wajik di Panti Pareden, Kompleks Magangan. Ritual ini menandai awal pembuatan gunungan, simbol kemakmuran yang akan diarak dan dibagikan kepada masyarakat.

Puncak acara berlangsung pada Jumat, 20 Maret 2026. Sejak pagi, prajurit keraton sudah bersiap di Kompleks Kamandhungan Kidul. Sekitar pukul 09.00 WIB, gunungan diturunkan dari Sitihinggil Pagelaran Keraton, lalu diarak menuju Masjid Gedhe Kauman. Di sana, gunungan didoakan sebelum dibagikan kepada masyarakat sebagai berkah. Sebagian gunungan juga dikirim ke Pura Pakualaman, Kepatihan, dan Ndalem Mangkubumen. Selain kirab gunungan, ada pula prosesi Bedhol Songsong di Sasana Hinggil Dwi Abad, serta Ngabekten Kakung di dalam keraton. Rangkaian panjang ini ditutup dengan Ngabekten Putri pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Sebanyak 14 bregada prajurit keraton ikut serta dalam prosesi tahun ini. Di antaranya Prajurit Jager, Suranata, Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Ketanggung, Mantrijero, Langenastra, Nyutra, Langenkusuma, dan Sumahatmaja. Kehadiran mereka bukan hanya menjaga jalannya prosesi, tetapi juga memperlihatkan kekayaan tradisi militer keraton. Keraton juga memperkenalkan inovasi berupa revitalisasi busana prajurit. Misalnya, busana kebesaran Kanca Kaji kini dibedakan berdasarkan pangkat: sikepan hitam untuk Wedana dan jubah kehijauan untuk Bekel. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikembangkan agar tetap relevan.

Keraton Yogyakarta mengumumkan penyesuaian operasional selama rangkaian acara. Unit wisata Kagungan Dalem Kedhaton dan Tamansari ditutup pada 20–21 Maret, sementara Kagungan Dalem Wahanarata tetap buka pukul 09.00–15.00 WIB. Dengan demikian, wisatawan tetap bisa menikmati sebagian fasilitas keraton meski ada pembatasan. Kanjeng Pangeran Hario (KPH) Notonegoro menegaskan bahwa absennya gajah dalam prosesi bukan berarti berkurangnya makna Garebeg. Justru, langkah ini menjadi simbol harmoni antara tradisi budaya dan kepedulian terhadap kelestarian satwa. Keraton ingin menunjukkan bahwa menjaga warisan leluhur tidak harus bertentangan dengan komitmen melindungi alam.

Dengan segala penyesuaian ini, Garebeg Sawal 2026 tetap menjadi momen yang dinanti. Masyarakat akan tetap menyaksikan kemegahan arak-arakan prajurit, gunungan hasil bumi, serta prosesi spiritual yang sarat makna. Meski tanpa gajah, semangat kebersamaan, syukur, dan pelestarian budaya tetap menjadi inti dari perayaan yang sudah berlangsung turun-temurun di Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *