UMBULHARJO,REDAKSI17.COM— Filateli dinilai memiliki posisi penting dalam ekosistem kebudayaan, sekaligus menjadi bagian dari perjalanan sejarah dan identitas bangsa. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, saat menghadiri Peringatan dan Pencanangan Hari Filateli Nasional (HFN) di Kota Yogyakarta yang diselenggarakan di Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG), Minggu (29/3).

Menurut Fadli Zon, perangko tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga memiliki nilai strategis sebagai instrumen diplomasi antar negara.

Ia mencontohkan praktik kerjasama penerbitan prangko bersama atau joint publication untuk memperingati hubungan diplomatik antarnegara.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon bersama Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat melakukan penandatanganan  Peringatan dan Pencanangan Hari Filateli Nasional (HFN) di Kota Yogyakarta yang diselenggarakan di Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG), Minggu (29/3).

“Kita berharap ini juga menjadi instrumen diplomasi, karena sampai sekarang puluhan negara menggunakan perangko untuk memperingati hubungan diplomatik, misalnya 50 atau 70 tahun hubungan bilateral. Jadi ada penerbitan prangko bersama, misalnya Indonesia dengan negara tertentu, masing-masing menampilkan identitasnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, di tengah perkembangan pesat platform digital dan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), filateli tetap memiliki ruang tersendiri. Menurutnya, masyarakat termasuk generasi muda tidak sepenuhnya meninggalkan budaya material.

Selanjutnya, dilakukan peluncuran buku Kantor Pos dengan judul ‘DJOCJA’.

“Kita tidak bisa mengingkari kemajuan teknologi informasi, namun ini adalah bagian dari perjalanan. Yang menarik, generasi Z juga menyukai hal-hal yang bersifat material. Budaya material adalah ekspresi budaya, dan filateli bisa menjadi salah satu platformnya,” jelasnya.

Dalam kesempatan ini juga telah dilakukan penandatanganan sampul peringatan HFN serta peluncuran buku Kantor Pos dengan judul ‘DJOCJA’. Tak hanya itu, dalam kesempatan ini juga dilakukan penanaman pohon dan hans stamp TBEG.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mewakili Pemerintah Kota Yogyakarta menyampaikan, apresiasi atas penyelenggaraan HFN di Kota Yogyakarta. Ia menilai filateli sebagai media pencatat sejarah dan peradaban manusia modern.

“Filateli adalah pencatat sejarah dan peradaban umat manusia, mirip seperti mata uang. Di dalam perangko terdapat tulisan dan gambar tentang peristiwa, bangunan, hingga tokoh berpengaruh. Saat membuka album perangko, kita seperti membuka cakrawala masa lalu,” ungkapnya.

Hasto menambahkan, pemahaman terhadap sejarah melalui filateli dapat menjadi pijakan dalam merancang masa depan yang lebih baik.

“Kegiatan ini menjadi penanda baru bagi Kota Yogyakarta untuk mengembangkan spektrum karya budaya. Kami berharap kedepan bisa menambah kunjungan wisata dan menjadi bagian dari penguatan ekosistem budaya,” katanya.

Ia juga berharap kegiatan ini mampu memperkuat posisi Yogyakarta sebagai kota budaya sekaligus meningkatkan kunjungan wisata.

“Tantangan di era digital ini dimana jejak sejarah kini lebih banyak terdokumentasi secara digital. Meski demikian, kita optimistis bahwa minat terhadap benda-benda klasik, termasuk perangko, dapat kembali tumbuh di kalangan generasi muda,” ungkapnya.