Mojtaba Khamenei (kanan), putra dari mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (kiri).(WIKIMEDIA COMMONS via WION)
JAKARTA,REDAKSI17.COM – Ayatullah Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk menjadi Pemimpin Tertinggi baru Iran menggantikan Ayatollah Ali Khamenei, Senin (9/3/2026).
Penunjukan Mojtaba Khamenei dilakukan setelah Majelis Pakar yang beranggotakan 88 yang bertugas memilih pemimpin baru Iran melakukan musyawarah.
Berikut pernyataan resmi Majelis Pakar Ulama Iran setelah melakukan musyawarah, dengan suara mayoritas mutlak, memperkenalkan Ayatullah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin ketiga Republik Islam Iran.
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Salam dan berkah Allah tercurah kepada rakyat Iran yang mulia dan merdeka.
Majelis Ahli Kepemimpinan, sembari menyampaikan belasungkawa atas syahidnya pemimpin besar Yang Mulia Ayatullah Imam Khamenei (semoga Allah menyucikan jiwanya yang murni) dan para syuhada lainnya, khususnya para komandan kehormatan, angkatan bersenjata yang setia, serta para siswa Sekolah Shajareh Tayyebeh di Kabupaten Minab, dengan ini menginformasikan bahwa Majelis tidak ragu sesaat pun dalam proses pemilihan dan pengenalan kepemimpinan sistem Islam.
Meskipun negara tengah menghadapi kondisi perang yang berat dan ancaman langsung terhadap institusi rakyat, termasuk pengeboman kantor Sekretariat Majelis Ahli Kepemimpinan yang menewaskan sejumlah staf serta tim keamanan, Majelis Ahli tetap menjalankan tugas konstitusionalnya.
Sesuai dengan peraturan internal, langkah-langkah dan pengaturan yang diperlukan telah dilakukan untuk mengadakan sidang luar biasa guna memperkenalkan pemimpin baru.
Perencanaan dan koordinasi dilakukan secara cermat untuk mengumpulkan para perwakilan Majelis dari seluruh pelosok negeri.
Dengan demikian, meskipun Pasal 111 Konstitusi mengatur pembentukan dewan sementara, negara tidak akan mengalami kekosongan kepemimpinan.
Majelis Ahli Kepemimpinan menegaskan penghormatan terhadap posisi tinggi Kepemimpinan Ulama (Wilayat al-Faqih) di era kegaiban Imam Mahdi (semoga Allah menyegerakan kemunculannya), serta pentingnya kepemimpinan dalam sistem Republik Islam.
Majelis juga mengenang 47 tahun pemerintahan bijaksana yang berlandaskan martabat, kemerdekaan, dan otoritas para Imam Revolusi.
Setelah melalui tinjauan mendalam dan memanfaatkan kapasitas Pasal 108 Konstitusi, dalam sidang luar biasa hari ini, Ayatullah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei (semoga Allah menjaganya) resmi diangkat sebagai pemimpin tertinggi ketiga Republik Islam Iran berdasarkan suara bulat para perwakilan Majelis Ahli.
Sebagai penutup, Majelis menyampaikan apresiasi kepada dewan sementara sesuai Pasal 111 Konstitusi, serta mengundang seluruh rakyat Iran, khususnya para elit dan intelektual seminari maupun universitas, untuk menyatakan kesetiaan (ba’at) kepada kepemimpinan baru.
Majelis juga menyerukan persatuan di sekitar poros Kepemimpinan, sembari memohon rahmat dan karunia Allah Yang Maha Kuasa bagi bangsa dan rakyat Iran.
Salam, rahmat, dan berkah Allah atas Anda sekalian.
Majelis Ahli Kepemimpinan
17/12/1404 (Kalender Iran)
Sosok Ayatullah Mojtaba Khamenei
Nama Ayatullah Haj Seyyed Mojtaba Khamenei kini tengah menjadi sorotan dunia.
Putra kedua dari mendiang Pemimpin Agung Iran, Ayatollah al-Uzma Seyyed Ali Khamenei ini, muncul sebagai figur sentral yang diprediksi melanjutkan estafet kepemimpinan di Republik Islam Iran.
Latar Belakang dan Masa Muda
Lahir di Mashhad pada tahun 1969, Mojtaba Khamenei tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama yang sangat dihormati.
Sejak muda, ia telah menunjukkan dedikasi pada pendidikan agama dan pengabdian negara:
- Pendidikan Awal: Menyelesaikan studi seminari (hauzah) di sekolah Ayatollah Mojtahedi Tehrani.
- Pengalaman Militer: Selama masa “Pertahanan Suci” (Perang Iran-Irak), ia terjun langsung ke garis depan pertempuran bersama para pejuang Islam lainnya.
- Studi Lanjutan: Pasca perang pada tahun 1989, ia memperdalam ilmu agamanya di Qom hingga tahun 1992, sebelum sempat kembali ke Teheran untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi.
Karier Intelektual di Dunia Ulama
Di dunia akademik Islam, Ayatollah Mojtaba bukan sekadar “putra mahkota”. Ia dikenal memiliki kecerdasan tajam dan inovasi dalam pengajaran yurisprudensi (fiqh):
- Guru-Guru Besar: Ia belajar langsung dari pakar-pakar ternama seperti Ayatollah Ahmadi Miyaneji, Reza Ostadi, hingga kuliah tingkat lanjut dari ayahnya sendiri dan ulama besar seperti Sheikh Javad Tabrizi.
- Inovasi Mengajar: Selama lebih dari 17 tahun, ia aktif mengajar kelas tingkat lanjut. Sebelum pandemi COVID-19, kelasnya di Qom diikuti lebih dari 400 santri.
Menurut dua murid Mojtaba Khamenei: Hojjat al-Islam Moghadami Shahidani dan Ali Kermzadeh, pada tahun akademik 2023-2024, pendaftarnya membludak hingga 1.300 orang.
Namun, secara mengejutkan Mojtaba membatalkan kelas tersebut dengan alasan “masalah spiritual pribadi”. Hal ini disebut sebagai kerendahan hatinya untuk tidak ingin menjadi pusat perhatian berlebih.
Kedekatan dengan Tokoh Kunci dan Strategi Nasional
Selain kapasitas ilmunya, Mojtaba Khamenei memiliki posisi strategis dalam struktur kekuasaan dan pertahanan Iran:
- Pendamping Setia: Selama bertahun-tahun, ia menjadi pendamping sekaligus orang kepercayaan terdekat sang ayah dalam mengelola berbagai urusan penting nasional.
- Jaringan Militer & Perlawanan: Ia memiliki hubungan berkelanjutan dengan komandan militer elit dan tokoh-tokoh kunci “Front Perlawanan”, termasuk mendiang Jenderal Qasem Soleimani dan Seyyed Hassan Nasrallah.
- Isu AI hingga Teknologi: Selain ahli agama dan mistisisme (irfan), ia juga mendalami isu-isu modern seperti ekonomi, kecerdasan buatan (AI), dan proyek berbasis teknologi terkini.
Menjadi Target Barat dan Zionis
Rekam jejaknya yang kuat dalam memperkuat sistem revolusioner Iran membuatnya menjadi target utama lawan politik luar negeri Iran.
Ia kerap mengalami upaya pembunuhan karakter hingga ancaman fisik dari pihak Amerika Serikat dan rezim Zionis.
Meskipun demikian, dukungan dari para elit seminari (Hauzah) dan intelektual universitas terus mengalir kepadanya, melihat sosoknya sebagai perpaduan antara “semangat revolusioner” dan “kemurnian jiwa”.
Mengenal Majelis Ahli Iran
Majelis Ahli Iran atau Assembly of Experts (Persia: Majles-e Khobregan-e Rahbari) adalah lembaga keagamaan-politik paling penting dalam sistem Republik Islam Iran.
Lembaga ini memiliki satu fungsi yang sangat krusial: memilih, mengawasi, dan secara teoritis bisa memberhentikan Pemimpin Tertinggi Iran (Supreme Leader).
Latar Belakang dan Sejarah Pembentukan
Majelis Ahli lahir setelah Iranian Revolution tahun 1979, ketika rezim monarki Shah digantikan oleh negara teokrasi yang dipimpin ulama Syiah.
Tokoh utama revolusi, Ruhollah Khomeini, memperkenalkan konsep Wilayat al-Faqih (kepemimpinan ulama). Dalam konsep ini, seorang ulama tertinggi memimpin negara sebagai Pemimpin Tertinggi (Rahbar).
Untuk menentukan siapa ulama yang berhak memegang posisi tersebut, konstitusi Iran membentuk Majelis Ahli.
Komposisi dan Keanggotaan
Majelis Ahli terdiri dari ulama Syiah senior yang ahli dalam hukum Islam (fiqh).
Fakta utama:
- Jumlah anggota: 88 orang
- Masa jabatan: 8 tahun
- Dipilih melalui pemilu langsung oleh rakyat Iran
- Kandidat harus ulama dengan kemampuan ijtihad (kemampuan menafsirkan hukum Islam).
Tugas Utama Majelis Ahli
Konstitusi Iran memberi dua kewenangan utama kepada Majelis Ahli.
Memilih Supreme Leader
Jika posisi Rahbar kosong (misalnya wafat), majelis ini akan:
- Mengidentifikasi kandidat ulama yang memenuhi syarat
- Membahas kandidat secara tertutup
- Memilih satu orang melalui voting mayoritas





