Jakarta,REDAKSI17.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut persaingan menarik investasi global kian berat seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik, termasuk perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Menurut Pjs Ketua Dewan Komisioner OJK Frederica Widyasari, kondisi ini terjadi di saat Indonesia mulai melihat respons pasar yang positif atas berbagai reformasi yang dilakukan beberapa waktu terakhir.
“Hal ini akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan juga pengetatan likuiditas tentu saja di dalam pasar keuangan global, dan ini juga tentunya yang juga akan berpengaruh pada bagaimana persaingan untuk mendapatkan dana global yang akan semakin ketat,” kata perempuan yang akrab disapa Kiki itu dalam acara Market Outlook 2026 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Selasa (3/3/2026).
Kiki menjelaskan, Iran memiliki cadangan minyak terbesar ketiga di dunia dan menguasai Selat Hormuz. Jalur ini dilalui sekitar 30% perdagangan minyak dunia dan 20% perdagangan LNG, sehingga gangguan berkepanjangan berpotensi mendorong lonjakan harga energi global.
Tekanan geopolitik tersebut dinilai akan berdampak langsung terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia, mulai dari kenaikan harga minyak hingga pengetatan likuiditas di pasar keuangan internasional. Kondisi inilah yang menyebabkan persaingan dalam menarik investasi global.
“Mereka (Iran) menguasai selat Hormuz yang ini juga akan berdampak sangat luar biasa. Tentunya ini akan mempengaruhi harga minyak global. Terlebih kalau Selat Hormuz itu ditutup secara berkepanjangan, maka ini akan sangat berpengaruh kepada global termasuk Indonesia. Karena Selat Hormuz ini dilalui oleh 30% perdagangan minyak dan juga LNG-nya itu 20% lewat di situ,” jelas Kiki.
Di tengah situasi ini, arus modal internasional cenderung bergerak ke instrumen aman atau safe haven. Oleh karena itu, Kiki menyebut Indonesia dituntut tidak hanya menjaga stabilitas makroekonomi, tetapi juga menunjukkan fundamental ekonomi yang kuat serta tata kelola pasar yang kredibel.
“Dalam situasi seperti ini kita melihat bagaimana pasar negara berkembang kita dituntut untuk bagaimana menunjukkan fundamental yang kuat sekaligus tata kelola yang kredibel agar tetap kompetitif dan menarik aliran modal asing,” tutupnya.





