Oleh: Sulung Nof, Penulis
Nama Anies Baswedan dinobatkan sebagai tokoh Muslim berpengaruh di dunia. Orangnya dikenal lurus. Budi pekertinya halus. Sosoknya terbilang religius. Pola pikirnya genius. Pembawaannya serius. Dan tentu saja bahasa Inggrisnya bagus. Kelebihan inilah yang membuat sebagian orang terbius.
Anies Baswedan dikesankan semakin agamais setidaknya sejak Pilgub DKI Jakarta 2017. Apalagi saat dirinya membangun relasi dengan lingkaran “Petamburan”. Sebelumnya ia sempat dilabeli sebagai penganut aliran syiah ataupun orang yang berpaham pluralisme karena pernah menempuh pendidikan di Barat.
Sebagian orang malah menganggap Anies Baswedan layaknya Recep Erdogan. Dilihat sekilas pandang, kedua tokoh ini memiliki kesamaan. Namun ada satu di antaranya yang membedakan. Erdogan tampil fasih saat membaca Al-Quran. Sementara Anies —walau keturunan Arab, mohon maaf sepertinya kurang latihan.
Setelah muncul tulisan ini barangkali Anies Baswedan kurang berkenan. Meski harapannya ia akan berusaha memperbaiki bacaan. Terlebih beberapa hari lagi datang Ramadhan, bulan diturunkannya Al-Quran. Indah nian bila Anies tampak tadarusan, kalau perlu sampai khataman. Maka sempurnalah segala kebaikan.
Nama Prabowo Subianto juga dinobatkan sebagai tokoh Muslim berpengaruh di dunia. Pendiri partai politik yang patriotik. Kepribadiannya unik meski dididik dalam tradisi militeristik. Sosoknya karismatik. Jalan pikirannya futuristik. Memahami geopolitik secara holistik. Dan tentu saja kemampuan bahasa Inggrisnya otentik. Kelebihan inilah yang membuat sebagian orang simpatik.
Prabowo Subianto adalah Presiden ke-8 Republik Indonesia. Sebuah angka magis yang menjadi sebutannya selama ini, yakni 08. Ia adalah satu-satunya tokoh nasional yang jatuh berkali-kali tapi tetap bangun lagi. Setelah kejatuhan karirnya di era 1998, ia maju sebagai capres dalam Konvensi Partai Golkar 2004, maju sebagai cawapres 2009, maju lagi sebagai capres 2014 dan 2019. Dan semuanya gagal.
Berbeda dengan Anies Baswedan yang main “petak umpet” lewat Partai Gerakan Rakyat, Prabowo Subianto membangun Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) secara terbuka. Kalau untuk menjadi pemimpin Indonesia mesti lewat partai politik, maka ia menempuh cara itu sebagai jalan ninjanya. Para kadernya dididik di Padepokan Garuda Yaksa sebagai kawah candradimuka.
Lebih dari setahun Prabowo Subianto menjadi Presiden RI, kita perlu jujur mengakui bahwa terjadi sejumlah perubahan. Dan itu adalah harapan yang tidak boleh hilang. Publik menaruh harapan, apa yang dijanjikan segera diwujudkan. Sebab saat ini bukan lagi masa kampanye untuk cari dukungan. Bisakah Prabowo mewujudkan? Sebab jangan sampai sebutan “omon-omon” justru jadi bumerang.
Bahwa ada yang menyukai Anies Baswedan ataupun Prabowo Subianto, itu adalah fakta. Begitu pun kalau ada yang membenci di antara keduanya, itu juga nyata. Apapun label maupun kesan yang dilekatkan kepada mereka, selama perjalanan hidup masih berjalan, maka proses pemaknaan dan pendewasaan akan jalan beriringan hingga datangnya kematian.
Biasanya, kadar suka dan benci bagi orang yang berakal sehat berada pada level yang sewajarnya. Hal ini agar tetap terjalin keakraban antar warga negara. Antara pecinta dan pembenci saling mengerti. Dengan begitu, masing-masing menyediakan ruang rasionalitas agar dialektika tercipta bagi kedua kubu yang posisinya sekarang berseberangan.
Pada Pilpres 2014 dan 2019, saya termasuk yang memberi dukungan dan pilihan kepada Prabowo Subianto. Kemudian pada Pilpres 2024, dukungan dan pilihan saya berikan kepada Anies Baswedan. Kedua tokoh nasional ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangan, tergantung dari mana kita punya sudut pandang. Mungkinkah mereka bisa disatukan pada Pilpres 2029? Wallahu a’lam.
Apabila tidak mungkin disatukan, maka tidak masalah bila Anies Baswedan dan Prabowo Subianto tanding ulang di Pilpres mendatang. Bisa jadi Prabowo menggandeng Muhaimin Iskandar atau Agus Harimurti Yudhoyono. Dan boleh jadi Anies bakal diajak duet bersama Rano Karno atau Gibran Rakabuming. Sehingga kita akan dapat calon pemimpin terbaik di antara mereka berdua.
Kalau berumur panjang, siapa yang bakal saya pilih di Pilpres 2029, apakah Prabowo Subianto atau Anies Baswedan? Pada waktu yang tepat tentu akan diputuskan. Meski demokrasi ini amat menyebalkan karena rakyat sering ditinggalkan dan tidak diperhatikan, tapi inilah kemewahan yang kita miliki untuk memilih calon pemimpin berdasarkan Undang-Undang. Setidaknya itulah bentuk tanggung jawab untuk turut berpartisipasi dalam memperbaiki negeri. Soal apakah akan terbukti, itu jadi tanggung jawab pemimpin yang terpilih.
Bandung, 23 Sya’ban 1447 H / 11 Februari 2026
EDITOR: REYNA





