Penemuan ini datang dari tim ilmuwan di RIKEN Center for Emergent Matter Science yang bekerja sama dengan University of Tokyo, dipimpin oleh Takuzo Aida. Mereka mencoba menjawab masalah besar dunia: plastik yang kuat dan praktis, tapi sulit terurai dan mencemari lingkungan, terutama laut. Solusinya? Membuat plastik baru dari bahan nabati yang tetap kuat saat dipakai, tapi bisa “hilang” dengan cepat saat masuk ke alam.
Cara kerjanya cukup unik. Plastik ini dibuat dari selulosa—zat alami yang berasal dari tanaman dan merupakan polimer paling melimpah di Bumi. Berbeda dengan plastik biasa berbasis minyak, bahan ini dirancang dengan ikatan kimia khusus yang stabil saat digunakan sehari-hari, tapi akan langsung melemah ketika terkena air asin. Jadi selama dipakai (misalnya untuk kemasan), dia tetap kuat. Tapi begitu terbuang ke laut, struktur kimianya mulai terurai.
Dalam uji laboratorium, hasilnya cukup mengejutkan. Sampel kecil plastik ini bisa larut di air laut hanya dalam waktu sekitar 2–3 jam. Setelah itu, sisa-sisanya bisa diurai oleh bakteri alami tanpa meninggalkan mikroplastik berbahaya. Bahkan di tanah, material ini juga terurai relatif cepat—sekitar satu minggu hingga 10 hari. Artinya, plastik ini tidak hanya mengurangi sampah besar, tapi juga mencegah terbentuknya partikel mikroplastik yang selama ini jadi masalah serius di rantai makanan.
Yang bikin inovasi ini terasa penting adalah keseimbangannya: tetap berfungsi seperti plastik biasa saat dibutuhkan, tapi tidak “abadi” saat menjadi sampah. Kalau teknologi ini bisa diproduksi massal, dampaknya bisa besar—mulai dari kemasan makanan, kantong plastik, hingga produk sekali pakai lainnya yang selama ini jadi penyumbang utama pencemaran laut.
Meski begitu, saat ini teknologi ini masih dalam tahap penelitian dan pengembangan. Tantangan berikutnya adalah produksi skala besar, biaya, dan memastikan daya tahan material tetap optimal di berbagai kondisi penggunaan. Tapi kalau berhasil, ini bisa jadi langkah besar menuju masa depan tanpa polusi plastik.
Sumber:
Penelitian oleh RIKEN Center for Emergent Matter Science dan University of Tokyo dipimpin Takuzo Aida tentang plastik berbasis selulosa ramah lingkungan





