Solo, REDAKSI17.COM – Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo di Solo yang menelan biaya lebih dari Rp330 miliar kini menghadapi sorotan tajam.
Diresmikan oleh Gibran Rakabuming Raka pada Oktober 2023 sebagai proyek unggulan pengolahan sampah, fasilitas ini semula ditargetkan mampu mengolah hingga 400 ton sampah per hari dan bahkan menerima kiriman dari luar daerah.
Namun realita jauh berbeda. Data terbaru menunjukkan PLTSa hanya mampu mengolah kurang dari 100 ton sampah per hari, atau sekitar 6 persen dari total volume.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas proyek yang seluruh biaya pembangunan dan operasionalnya ditanggung investor, sekaligus memunculkan kekhawatiran apakah PLTSa benar-benar solusi atau sekadar ambisi yang gagal diwujudkan.





