Home / Nasional dan Internasional / Prabowo Targetkan 100 GW Surya, Dorong Transformasi Energi Hijau

Prabowo Targetkan 100 GW Surya, Dorong Transformasi Energi Hijau

JAKARTA,REDAKSI17.COM – Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan tekanan energi dunia, Indonesia mulai mempertegas arah transformasi ekonominya. Dalam Forum Bisnis Indonesia–Jepang di Tokyo, Presiden Prabowo Subianto mengungkap strategi besar: mempercepat transisi energi hijau sekaligus memperkuat posisi ekonomi nasional berbasis nilai tambah.

Langkah ini tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari upaya jangka panjang Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil, sekaligus merespons dinamika global yang kian tidak stabil, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada pasokan energi dunia.

“Dalam tiga tahun ke depan, kami ingin mencapai 100 gigawatt energi surya. Bagi kami, ini lebih mendesak karena situasi yang kami lihat,” ujar Presiden Prabowo.

Target 100 gigawatt energi surya menjadi salah satu indikator paling konkret dalam agenda transformasi energi Indonesia. Angka ini mencerminkan akselerasi signifikan, mengingat pengembangan energi terbarukan selama ini masih menghadapi tantangan investasi dan infrastruktur.

Selain energi surya, pemerintah juga menyoroti potensi panas bumi yang dimiliki Indonesia—salah satu terbesar di dunia. Sektor ini dinilai strategis karena mampu menyediakan pasokan energi stabil berbasis sumber daya domestik.

Di sisi lain, pengembangan bahan bakar nabati turut menjadi fokus. Pemerintah mendorong peningkatan campuran biodiesel dari 40 persen menjadi 50 persen, serta memperluas riset pada bahan bakar berbasis etanol dan komoditas nabati lainnya.

“Dengan upaya-upaya ini, kita akan berada dalam posisi yang aman untuk menghadapi ketidakpastian apa pun yang ada,” kata Prabowo.

Transformasi energi tersebut berjalan beriringan dengan penguatan kemitraan internasional, khususnya dengan Jepang. Dalam forum tersebut, Presiden menegaskan pentingnya menjaga hubungan ekonomi yang rasional di tengah dunia yang penuh risiko.

“Saat ini kita hidup dalam lingkungan global yang berbeda, penuh risiko, penuh ketidakpastian. Mempertahankan hubungan ekonomi yang rasional sangatlah penting,” ujarnya.

Indonesia, lanjut Prabowo, tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif, dengan pendekatan membuka kerja sama seluas-luasnya.

“Filosofi kami adalah seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak,” ucapnya.

Pendekatan ini menempatkan Indonesia pada posisi strategis sebagai mitra yang stabil dan terbuka bagi investasi global, termasuk dalam pengembangan energi hijau dan industri berbasis teknologi.

Di sektor ekonomi, Presiden menegaskan bahwa transformasi tidak hanya berfokus pada energi, tetapi juga pada struktur industri nasional. Indonesia diarahkan untuk keluar dari ketergantungan ekspor bahan mentah menuju industrialisasi berbasis nilai tambah.

Kebijakan hilirisasi menjadi kunci dalam strategi ini, dengan harapan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat daya saing global.

Namun, transformasi tersebut juga diiringi dengan tuntutan reformasi tata kelola pemerintahan.

“Rakyat kita menuntut tata pemerintahan yang baik, bersih, dan efisien. Saya bertekad untuk melanjutkan mandat ini,” ujar Prabowo.

Selain energi dan ekonomi, Presiden juga menekankan pentingnya perlindungan lingkungan sebagai bagian dari strategi pembangunan jangka panjang. Hutan Indonesia, yang memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan iklim global, menjadi perhatian utama.

“Hutan kita harus dilindungi. Kita harus melakukan reboisasi besar-besaran, bukan hanya untuk Indonesia tetapi juga dunia,” katanya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa transformasi ekonomi Indonesia tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga keberlanjutan.

Jika ditarik dalam konteks yang lebih luas, agenda transformasi yang disampaikan Presiden Prabowo mencerminkan upaya reposisi Indonesia di tengah perubahan global. Energi hijau, kemitraan strategis, dan industrialisasi menjadi tiga pilar utama yang saling terkait.

Tantangannya ke depan bukan hanya pada realisasi target, tetapi juga konsistensi kebijakan dan kesiapan ekosistem pendukung—mulai dari investasi, regulasi, hingga sumber daya manusia.

Namun satu hal yang jelas, arah yang ditetapkan menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti arus global, melainkan mulai menentukan jalannya sendiri. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *