Home / Ekonomi dan Bisnis / Prancis Krisis BBM, 18% SPBU Kekurangan Pasokan

Prancis Krisis BBM, 18% SPBU Kekurangan Pasokan

Jakarta,REDAKSI17.COM – Krisis energi imbas perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran tak hanya melanda kawasan Asia, tetapi juga Eropa. Prancis salah satunya, mengumumkan kekurangan pasokan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Dikutip dari France24, Pemerintah Prancis mengumumkan sekitar 18% SPBU negaranya mengalami kekurangan pasokan bahan bakar minyak (BBM). Sementara di wilayah barat negara tersebut, beberapa pengemudi memblokade jalan imbas kenaikan harga BBM pada Selasa (7/4) kemarin.

Menteri Energi Prancis, Maud Bregeon, mengatakan kurangnya pasokan BBM di negaranya terjadi akibat masalah logistik. Selain itu, terdapat antrean panjang di SPBU TotalEnergies Prancis menyusul keputusan untuk mempertahankan harga BBM di bawah kompetitornya.

Dalam keterangannya, TotalEnergies mempertahankan batas harga BBM tanpa timbal sebesar €1,99 per liter pada bulan April. Akan tetapi, TotalEnergies tetap menaikkan batas harga BBM solar menjadi €2,25 per liter.

Perusahaan minyak Prancis itu mengatakan, batas harga solar akan lebih rendah untuk pelanggan listrik dan gas ritel. Pemerintah Prancis saat ini diketahui telah menetapkan arah kebijakan BBM untuk meringankan dampak kenaikan harga pada sektor-sektor yang paling membutuhkan.

Langkah-langkah tersebut termasuk subsidi bahan bakar lebih dari €70 juta (US$ 80,91 juta) atau sekitar Rp 1,38 triliun (asumsi kurs Rp 17.065) untuk industri transportasi, pertanian, dan perikanan di bulan April. Selain itu, pemerintah juga memberi tunjangan tambahan untuk rumah tangga berpenghasilan rendah dan pinjaman bagi UMKM.

Prancis diketahui belum pernah mengalami krisis energi sebagaimana terjadi hari ini. Tetapi setidaknya, negara tersebut sempat menaikkan pajak solar yang disusul oleh aksi demonstrasi pada tahun 2018-2019.

Kenaikan pajak solar saat itu memicu protes nasional yang berubah menjadi pemberontakan publik selama berbulan-bulan terhadap kepemimpinan Presiden Emmanuel Macron. Kemudian saat ini, beberapa pengemudi truk dan sopir juga turut memprotes kebijakan tersebut dengan mendirikan penghalang jalan di Nantes, Prancis Barat.

“Jika keadaan tidak berubah, saya khawatir – kita semua khawatir – saya takut akan terjadi gelombang PHK dalam beberapa bulan mendatang. Situasi menjadi sangat sulit bagi beberapa perusahaan,” kata seorang pengusaha Prancis, Charlotte Lucas, dikutip dari France24, Kamis (9/4/2026).

“Kami sudah mengalami cuaca buruk di awal tahun. Dan sekarang kami menghadapi masalah kenaikan harga solar dan bahan bakar diesel non-jalan raya. Hal itu berdampak pada arus kas kami, yang saat ini tidak begitu melimpah,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *