Home / Politik / Rocky Gerung Sindir Pertemuan Prabowo dengan 1.200 Guru Besar

Rocky Gerung Sindir Pertemuan Prabowo dengan 1.200 Guru Besar

SURABAYA,REDAKSI17.COM-Akademisi Rocky Gerung memberikan kuliah umum di Surabaya pada acara Pandu Negeri Public Lecture, Sabtu sore (17/1/2026).

Berbicara di hadapan anak muda, Rocky melontarkan sejumlah kritik terhadap sejumlah kebijakan nasional, mulai dari program makan bergizi gratis (MBG) hingga pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan 1.200 guru besar.

Kuliah umum tersebut digelar di hadapan ratusan anak muda dan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Rocky Gerung selama berada di Kota Pahlawan. Sebelumnya, Rocky bersama Ketua DPP PDI Perjuangan Tri Rismaharini mengunjungi Kebun Raya Mangrove Surabaya dan Taman Harmoni.

Melalui pemaparannya, Rocky menekankan pentingnya kepemimpinan yang tidak semata berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik. Namun, juga pada pembentukan batin dan intelektual warga.

“Saya kemudian diajak Bu Risma tadi pergi ke Taman Harmoni. Dipilih istilah harmoni. Untuk memungkinkan ada persahabatan antar warga negara, warga kota. Humanity itu solidarity dimulai di Taman Harmoni,” ujar Rocky pada acara yang juga menghadirkan Risma sebagai narasumber.

Rocky juga mengisahkan pengalamannya melintasi jalan-jalan Surabaya yang kini dipenuhi pepohonan. Menurutnya, perubahan wajah kota berdampak langsung pada perilaku warganya.

“Saya tahu watak para pengemudi Surabaya tahun 80-an. Kasar. Namun, dari tadi saya tidak mendengar itu dan tidak melihat. Tidak ada semacam bahasa tubuh yang marah. Pohon yang ditanam oleh Ibu Risma ternyata berhasil menurunkan tekanan darah dari 200 ke 120,” ucapnya disambut tawa peserta.

Ia juga mengapresiasi Risma yang dianggap memahami psikologi warganya. “Apakah Ibu Risma pada waktu itu seorang wali kota? Bukan, dia seorang psikolog. Dia seorang psikiater yang tahu cara menurunkan emosi warganya,” katanya.

Rocky kemudian menghubungkannya pada program makan bergizi gratis yang digagas pemerintah pusat. Menurutnya, tugas utama pemimpin bukan hanya memberi makan secara fisik.

“Dan itu yang namanya pemimpin. Tugas pemimpin bukan sekadar memberi makan siang gratis. Tugas utama pemimpin adalah memberi makan pada batin manusia, memberi makan pada otak manusia,” tegas Rocky.

Sejak kepemimpinan Surabaya dilanjutkan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Rocky menilai Surabaya telah menunjukkan keberhasilan pembangunan manusia. Di antaranya angka stunting yang disebutnya jauh di bawah rata-rata nasional.

Karena itu, Rocky optimistis Surabaya memiliki masa depan yang cemerlang. Apalagi, berbekal sejarah panjang dan tradisi intelektual.

Rocky memaparkan bahwa Surabaya telah menjadi kota metropolitan sejak berabad-abad lalu. Memiliki relasi diplomatik internasional, Surabaya menjadi pusat intelektual yang diasuh oleh HOS Cokroaminoto.

“Inti dari sebuah kota adalah persahabatan, community. Kota adalah solidaritas. Dan itu yang kita takdirkan pada teman-teman kita. Dapatkah Anda melanjutkan dari kota ini?” ujarnya menantang anak muda.

Untuk konteks nasional, Rocky berharap Surabaya mampu mengambil peran sebagai penyejuk di tengah situasi ketidakpastian regional. Dia menyinggung kondisi politik dan ekonomi yang menurutnya penuh ketidakpastian, mulai dari kesulitan ekonomi hingga kegagalan diplomasi internasional.

Kritik kemudian dia sampaikan saat menyoroti pertemuan Presiden Prabowo dengan 1.200 guru besar di Istana Negara. Rocky mempertanyakan substansi pertemuan tersebut.

“Anda lihat, kemarin Presiden Prabowo mengumpulkan 1.200 guru besar di istana. Sampai sekarang saya mau tahu apa isinya. Pasti nggak ada, kenapa? Tak seorangpun guru besar berani angkat tangan bertanya pada Presiden Prabowo,” kata Rocky.

Ia menyindir keberanian akademisi dalam menyampaikan kritik. “Bagaimana nasib riset ketika dana-dana pendidikan dialihkan untuk urusan makan siang bergizi gratis? Tidak ada profesor yang bertanya begitu. 1200 guru besar, zonk,” katanya kembali.

Rocky pada kuliah umum tersebut juga mengajak generasi muda Surabaya untuk menjaga nilai solidaritas, keberanian berpikir kritis, dan peran kota sebagai fondasi bagi kebangkitan Indonesia yang lebih humanis.
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *