Foto: REUTERS/Reuters TV
Jakarta,REDAKSI17.COM – Wilayah di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr milik Iran dilaporkan baru saja dihantam serangan udara oleh militer Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (05/04/2026). Serangan ini memicu respons darurat dari Rusia yang langsung melakukan evakuasi besar-besaran terhadap ratusan teknisinya dari lokasi tersebut.
Mengutip laporan The Times of Israel, serangan di dekat PLTN Bushehr yang sebagian dibangun dan dioperasikan oleh Rusia tersebut menyebabkan seorang penjaga tewas. Perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, mengidentifikasi korban tewas sebagai warga negara Iran dan menyatakan telah mengevakuasi staf dari pabrik tersebut sejak perang Iran pecah pada akhir Februari lalu.
Penyiar publik Kan, mengutip seorang pejabat diplomatik, melaporkan bahwa para pejabat senior Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah berkoordinasi dengan tokoh-tokoh senior Rusia terkait evakuasi 198 pekerja pada hari Sabtu tersebut tanpa memberikan penjelasan lebih rinci.
Kepala Rosatom, Alexei Likhachev, memberikan pernyataan yang sangat mengkhawatirkan terkait kondisi di lapangan saat ini. Kantor berita Rusia mengutip pernyataan Likhachev yang menyebutkan bahwa situasi keamanan di sekitar pembangkit listrik tersebut saat ini berada dalam kondisi yang sangat berbahaya.
“Perkembangan di dekat pembangkit listrik tersebut berlangsung sejalan dengan skenario terburuk,” kata Likhachev.
Likhachev menambahkan bahwa pihaknya terus memantau situasi dengan sangat ketat dan telah melaporkan kondisi terkini kepada pimpinan tertinggi di Moskow. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya dampak serangan tersebut terhadap operasional nuklir di wilayah itu.
“Rosatom telah memberi tahu Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai situasi di sekitar pembangkit listrik tersebut,” ujar Likhachev mengutip kantor berita TASS.
Di sisi lain, ancaman bencana lingkungan yang mengerikan kini membayangi wilayah Teluk jika serangan terus berlanjut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi bencana radiasi yang bisa melenyapkan kehidupan di negara-negara tetangga.
“Serangan terus-menerus terhadap pembangkit listrik di pantai selatan Iran pada akhirnya dapat menyebabkan jatuhnya radioaktif yang akan mengakhiri kehidupan di ibu kota GCC (Dewan Kerjasama Teluk), bukan Teheran,” tegas Araghchi.
Secara geografis, letak Bushehr memang jauh lebih dekat dengan Kuwait, Bahrain, dan Qatar dibandingkan dengan ibu kota Iran sendiri. Jika terjadi kebocoran nuklir, negara-negara tetangga tersebut akan menjadi pihak yang paling terdampak secara langsung oleh awan radioaktif.
Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, turut bereaksi melalui unggahannya di media sosial terkait insiden ini. Meskipun tingkat radiasi dilaporkan masih terpantau normal, Grossi mengungkapkan kekhawatiran yang mendalam karena ini merupakan insiden keempat dalam beberapa minggu terakhir.
“Situs PLTN atau area terdekat tidak boleh diserang. Tidak ada kenaikan tingkat radiasi yang dilaporkan di lokasi tersebut, namun tetap ada kekhawatiran mendalam atas serangan ini,” ungkap Grossi.
Serangan pada hari Sabtu itu menandai keempat kalinya Bushehr menjadi sasaran selama perang yang sedang berlangsung. Reaktor air bertekanan di lokasi tersebut sebenarnya mampu mengalirkan listrik ke ratusan ribu rumah dan industri, meskipun saat ini baru menyumbang sekitar 1% hingga 2% dari total kebutuhan listrik Iran.
Pemerintah Iran sendiri sebenarnya tengah berupaya memperluas fasilitas tersebut dengan menambah beberapa reaktor baru. Pada tahun 2019, Iran memulai proyek yang direncanakan untuk menambah dua reaktor tambahan di lokasi tersebut, yang masing-masing akan menambah daya sebesar 1.000 megawatt.





