Gondokusuman,REDAKSI17.COM-Pemerintah Kota Yogyakarta menyambut hangat dan penuh apresiasi pelaksanaan kegiatan Sahur Keliling bersama lintas iman yang dipimpin oleh Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Gereja Katolik Paroki Kristus Raja Baciro, Senin (2/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan tersebut dinilai sebagai simbol nyata penguatan toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Kota Yogyakarta.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyampaikan kegiatan seperti ini memiliki nilai yang sangat positif dalam membangun keharmonisan masyarakat.
“Acara seperti ini sangat positif sekali, karena dengan kegiatan ini dapat meningkatkan keharmonisan masyarakat di Kota Yogyakarta. Sahur biasanya identik dilakukan oleh umat Muslim, tetapi hari ini kita sahur bersama di gereja. Ini sungguh sangat luar biasa,” ujar Hasto.
Ia menambahkan, Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan kota budaya memang telah lama dikenal sebagai miniatur keberagaman Indonesia. Karena itu, momentum sahur lintas iman ini dinilai sejalan dengan semangat kebersamaan yang selama ini terus dijaga.
Pihaknya menegaskan bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta selalu berkomitmen untuk terus mendukung berbagai kegiatan lintas iman yang memperkuat persatuan dan menciptakan kehidupan masyarakat yang damai, rukun, dan harmonis.
Hasto berharap, melalui kegiatan seperti ini, masyarakat Kota Yogyakarta semakin memperkuat sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan keyakinan.
“Harapan kami, masyarakat Kota Yogyakarta semakin harmonis, semakin solid, dan terus menjaga toleransi antarumat beragama. Inilah kekuatan kita sebagai bangsa,” tambahnya.
Sementara itu, Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid yang dikenal sebagai istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, menjelaskan bahwa kegiatan Sahur Keliling telah ia lakukan sejak tahun 2000, ketika mendampingi sang suami menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Ia menuturkan, pada awalnya kegiatan tersebut dilakukan untuk menyerap langsung aspirasi dan mendengar keluh kesah masyarakat dari berbagai lapisan.
“Dulu saya sahur bersama pengamen di kolong jembatan, sahur di pasar bersama pedagang dan buruh gendong, sahur di terminal bersama sopir bus dan tukang becak. Saya ingin merasakan langsung kehidupan mereka,” ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, misi Sahur Keliling tidak hanya sekadar menyapa masyarakat, tetapi juga menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial dan toleransi antarumat beragama. Ia menegaskan bahwa kegiatan sahur lintas iman ini menjadi pesan kuat bahwa kebersamaan dapat terjalin tanpa melihat perbedaan agama.
“Sekarang misinya adalah memperkuat solidaritas dan toleransi. Kita ingin menunjukkan bahwa kemanusiaan berada di atas segala perbedaan. Dengan sahur ini, kita juga bisa berbagi kasih kepada masyarakat yang kurang mampu,” jelasnya.
Suasana sahur di Gereja Katolik Paroki Kristus Raja Baciro berlangsung hangat dan penuh keakraban. Para tokoh lintas agama, umat gereja, serta masyarakat dari berbagai latar belakang duduk bersama menikmati hidangan sahur sederhana sambil berdialog tentang nilai-nilai persaudaraan dan kebangsaan.



