“Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah,” kata SBY di akun X pribadinya @SBYudhoyono, dikutip Selasa (20/1/2026).
Miliarder Kini Lebih Banyak Uang dan Mengendalikan Kekuasaan Politik
SBY menjelaskan, situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini.
Misalnya, ditandai dengan munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas.
Trump Ngotot Rebut Greenland, Prancis Mulai Kirim Pasukan Latihan Perang Bersama NATO
“Secara pribadi saya berdoa kepada Tuhan, semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi,” katanya.
Dia mengingatkan, banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 miliar manusia, bahkan tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia.
SBY mendorong adanya langkah konkret dari komunitas internasional. Secara khusus, dia mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera mengambil inisiatif.
“Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru,” katanya.
Meski mengakui saat ini PBB tampak tidak berdaya dan tak berkuasa, SBY berharap sejarah tidak mencatat lembaga internasional tersebut melakukan pembiaran. Menurutnya, kehancuran dunia sering kali terjadi bukan karena orang jahat, melainkan karena orang-orang baik yang memilih untuk diam.
“Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu ‘bagai berseru di padang pasir’. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way,” katanya.




