Home / Nasional / SBY Serukan Kerja Sama Regional dan Global pada Tokyo Conference 2026

SBY Serukan Kerja Sama Regional dan Global pada Tokyo Conference 2026

Presiden ke-6 Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam Tokyo Conference yang digelar pada 10–12 Maret 2026 di Jepang. (Istimewa)

 

Jakarta,REDAKSI17.COM – Presiden ke-6 Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendorong penguatan kerja sama regional dan global untuk menghadapi berbagai tantangan dunia yang semakin kompleks. Seruan tersebut disampaikan dalam Tokyo Conference yang digelar pada 10–12 Maret 2026 di Jepang.

Konferensi tahunan yang diselenggarakan oleh The Genron NPO itu menghadirkan sejumlah tokoh penting dunia, mulai dari mantan kepala negara, pejabat setingkat menteri, hingga pakar dari berbagai organisasi internasional. Tahun ini, konferensi mengangkat tema “Rebuilding Multilateralism within the Expanding Power–Driven Order.”

Duta Besar RI untuk Jepang Nurmala Kartini Sjahrir menjelaskan, forum tersebut menjadi ruang penting untuk bertukar gagasan mengenai masa depan tatanan dunia.

“Tokyo Conference merupakan salah satu forum strategis dalam menghimpun gagasan bersama untuk menciptakan tatanan dunia dalam kerangka perdamaian dunia. Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, hadir untuk turut menyumbang gagasan khususnya mengenai opsi Asia dalam the Age of Power dan penghormatan atas hukum internasional. Bapak SBY juga menyampaikan pentingnya membangun kembali multilateralisme,” ujar Nurmala Kartini Sjahrir, yang hadir didampingi Koordinator Fungsi Politik KBRI Tokyo, Titik Hamzah.

Selain SBY, sejumlah tokoh dunia turut menjadi pembicara utama. Di antaranya mantan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Perwakilan Tinggi Uni Eropa Kaja Kallas, mantan utusan khusus Amerika Serikat untuk Ukraina Keith Kellogg, Presiden ke-10 Jerman Christian Wulff, serta mantan Perdana Menteri Italia Paolo Gentiloni.

Dalam paparannya, SBY menyoroti meningkatnya pelanggaran hukum internasional di tengah situasi geopolitik global yang semakin tidak menentu. Ia mencontohkan konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran, serta perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina.

“Hukum internasional sudah tidak lagi dipatuhi bahkan diabaikan. Padahal power atau kekuasaan itu perlu dikontrol. Alat untuk mengontrol power adalah dengan power yang lainnya,” kata SBY yang juga menekankan bahwa dunia yang berbasis aturan menghadapi tantangan baru dan pentingnya mengedepankan dialog.

Di akhir paparannya, SBY mengajak negara-negara di dunia untuk kembali memperkuat kerja sama dan duduk bersama demi kepentingan internasional yang lebih luas.

Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan Fumio Kishida yang menilai Asia merupakan kawasan yang paling terdampak oleh kebijakan negara-negara besar serta konflik antarnegara yang tengah berlangsung.

Sehari sebelum konferensi utama digelar, juga diselenggarakan Asian Leaders Roundtable dengan tema “Asia’s Options in an ‘Age of Power’: How to Defend and Rebuild the Rules-Based Multilateral Order.” Dalam forum ini, SBY bertindak sebagai co-chair bersama Kishida.

Sejumlah tokoh Indonesia turut hadir sebagai panelis, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan mantan Duta Besar RI untuk Inggris Rizal Sukma.

Panelis lain yang ikut berpartisipasi antara lain mantan Wakil Perdana Menteri Singapura Heng Swee Keat dan mantan Gubernur Bank Sentral India Duvvuri Subbarao.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *