Amplifier memiliki sejarah yang menarik, dan dulunya tidak selalu secanggih dan seandal sekarang. Mari kita lihat sejarah amplifier, dan bagaimana amplifier tabung muncul.
Sekitar waktu gitar listrik pertama diciptakan, amplifier pertama sudah ada dan digunakan untuk gitar akustik. Namun, sistem amplifier ini tidak ideal. Sistem ini bukan dirancang untuk pemain gitar; melainkan untuk radio dan sistem PA, dan membutuhkan baterai besar dan berat untuk beroperasi. Sistem ini sulit didapatkan, tidak praktis, dan tidak andal, serta tidak memberikan penguatan volume yang cukup untuk benar-benar berfungsi. Sistem ini juga seringkali besar dan mahal, sehingga tidak memungkinkan bagi sebagian besar musisi untuk memilikinya dan menggunakannya.
Namun, pada awal tahun 1930-an, sistem PA mulai beralih dari sistem baterai karena penggunaan kapasitor elektrolit dan tabung penyearah. Berkat penemuan-penemuan ini, sistem PA dapat dicolokkan ke stopkontak, yang memungkinkan ukurannya jauh lebih kecil dan secara keseluruhan lebih baik daripada sistem berbasis baterai sebelumnya. Beauchamp dan Rickenbacker, para inovator yang disebutkan dalam blog kami tentang gitar listrik, mulai bereksperimen dengan memodifikasi sistem ini; mereka mengubah sistem agar bekerja dengan pickup alih-alih mikrofon, seperti halnya amplifier modern. Desain ini terbukti sangat penting bagi perkembangan amplifier.
Beauchamp dan Rickenbacke kemudian membentuk perusahaan Electro String, dan menciptakan amplifier gitar listrik produksi massal pertama pada tahun 1932. Setelah menciptakan model ini, perusahaan tersebut mempekerjakan seorang insinyur, Ralph Robertson, untuk meningkatkan desain amplifier mereka. Robertson kemudian mengembangkan sirkuit baru yang membuat amplifier Electro String jauh lebih unggul daripada pesaing lainnya, hingga amplifier mereka menginspirasi desain amplifier lainnya. Desain amplifier ini membuat amplifier gitar jauh lebih populer, dan popularitasnya terus meningkat selama bertahun-tahun. Namun, amplifier ini memiliki satu kekurangan besar; mereka memiliki speaker 10 watt. Itu jelas tidak cukup daya untuk menghasilkan volume yang diinginkan oleh para pemain gitar listrik.
Orang lain yang terinspirasi oleh perusahaan Electro String melihat masalah ini dan berupaya memperbaikinya. Pada tahun 1949, Leo Fender merilis ampli 50 watt baru dengan speaker yang jauh lebih besar. Gitar listrik dan amplifier yang bekerja dengannya kemudian mulai meningkat popularitasnya secara signifikan.
Pada tahun 1960-an, para musisi mulai menemukan bahwa mereka dapat mendorong amplifier mereka melampaui batas kemampuannya dan mendapatkan efek distorsi yang menarik. Suara khas ini menjadi sangat populer dalam musik era tersebut, dan semakin mendorong popularitas gitar listrik. Popularitas ini menyebabkan peningkatan permintaan akan amplifier yang lebih besar, lebih bertenaga, lebih keras, dan lebih mampu menangani suara-suara tersebut.
Jim Marshall kemudian memproduksi amplifier terbesar dan terkuat yang pernah ada untuk memenuhi tuntutan tersebut. Amplifier Marshall memiliki daya 100 watt, yang merupakan peningkatan daya yang signifikan. Amplifier ini juga menggunakan empat speaker. Kekuatan amplifier ini akhirnya memberikan apa yang diinginkan para gitaris sejak awal; suara yang besar dan bertenaga.
Jika anda membutuhkan alat kesehatan da laboratorium,silahkan hub 087849378899





