Washington, DC,REDAKSI17.COM – Seorang senator senior Amerika Serikat (AS) memperingatkan bahwa pemerintahan Donald Trump dan Israel telah mendorong Timur Tengah ke dalam krisis yang semakin meningkat setelah melancarkan perang Iran. Ia menilai Trump telah kehilangan kendali atas konflik yang terjadi.
Peringatan itu disampaikan oleh Senator Partai Demokrat Chris Murphy melalui serangkaian unggahan di platform X. Dalam pernyataannya, Murphy mengatakan perang telah menyeret kawasan ke dalam spiral kekerasan yang terus meluas.
“Sekarang sudah sangat jelas bahwa Trump telah kehilangan kendali atas perang ini. Ia salah besar memperkirakan kemampuan Iran untuk membalas. Situasi di kawasan ini semakin memanas,” tulis Murphy.
Menurut Murphy, krisis pertama berkaitan dengan Selat Hormuz, jalur pelayaran sempit yang menjadi rute penting bagi lebih dari 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Ia mengatakan AS meremehkan kemampuan Teheran untuk “mengganggu” jalur tersebut.
“Trump percaya Iran tidak akan menutup Selat Hormuz. Ia salah. Dan sekarang harga minyak melonjak,” sebut Murphy.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan drone, kapal cepat, dan ranjau laut oleh Iran membuat jalur perairan itu sangat sulit diamankan. Menurutnya, senjata-senjata tersebut tidak dapat sepenuhnya dieliminasi karena jumlahnya sangat banyak, tersebar luas, dan tersembunyi.
Murphy juga memperingatkan bahwa upaya mengawal kapal tanker melalui selat tersebut akan menempatkan angkatan laut AS pada risiko besar.
Krisis kedua, kata Murphy, berkaitan dengan meningkatnya peran drone dalam peperangan modern.
“Iran dapat menyerang fasilitas minyak di kawasan itu tanpa henti karena mereka memiliki begitu banyak drone bersenjata yang murah,” tulisnya.
Murphy merujuk pada serangan di kawasan Teluk yang telah mengganggu jalur pelayaran dan produksi energi. Ia menegaskan bahwa perang di Ukraina telah menunjukkan bagaimana drone telah mengubah wajah peperangan modern.
“Jika Trump memperhatikan perang di Ukraina, ia akan menyadari bagaimana peperangan telah berubah. Tetapi ia tidak melakukannya. Dan ia melakukan kesalahan besar,” tulis Murphy.
Di saat yang sama, sistem pertahanan udara di kawasan tersebut juga mengalami tekanan besar. Israel telah memperingatkan Washington bahwa persediaan pencegat rudal balistik mereka mulai menipis ketika perang memasuki minggu ketiga.
Murphy menggarisbawahi bahwa konflik semakin meluas secara geografis.
“Perang regional yang lebih luas sedang pecah ketika kelompok proksi Iran di Lebanon menyerang Israel dan kelompok di Irak menargetkan AS. Israel kini mengancam akan melakukan invasi darat besar-besaran ke Lebanon, yang dapat memicu krisis baru,” tulisnya.
Ia memperingatkan front konflik lain dapat segera terbuka.
Murphy mengatakan bahwa sejauh ini kelompok Houthi di Yaman masih relatif tenang, namun kondisi itu kemungkinan tidak akan berlangsung lama.
“Mereka dapat memproyeksikan kekuatan ke Laut Merah,” katanya.
Sejak dimulainya genosida di Gaza pada Oktober 2023, sebut Murphy, kelompok tersebut telah menutup sebagian besar jalur pelayaran di kawasan sebagai bentuk pembalasan.
Murphy menilai Suriah berpotensi kembali dilanda kekerasan.
“Bagi Suriah, ini adalah waktu terburuk bagi Trump untuk menyerang Iran. Suriah bisa kembali bergejolak,” ujarnya.
Krisis terakhir yang disoroti Murphy adalah tidak adanya rencana untuk mengakhiri perang tersebut.
Menurutnya, “Trump tidak memiliki rencana akhir. Iran dan kelompok proksinya dapat menciptakan kekacauan tanpa batas waktu.”
Ia memperingatkan bahwa invasi darat AS ke Iran akan membawa konsekuensi yang sangat menghancurkan.
Langkah tersebut, kata Murphy, akan menjadi “Armageddon” atau bencana perang yang sangat menghancurkan yang dapat menyebabkan ribuan tentara AS tewas. Namun, ia juga mengatakan bahwa menyatakan kemenangan secara sepihak lalu menarik diri dari perang tidak akan menyelesaikan masalah.
“Jika kita menyatakan kemenangan palsu, maka para garis keras baru yang berkuasa di Iran hanya akan membangun kembali apa yang telah kita hancurkan,” tulisnya.
Murphy menutup pernyataannya dengan mendesak pemerintah Trump untuk mengakhiri perang.
“Semua ini sepenuhnya dapat diperkirakan. Terus terang, inilah alasan mengapa presiden-presiden sebelumnya tidak cukup bodoh untuk memulai perang seperti ini,” tegasnya. “Trump telah kehilangan kendali atas perang ini. Jalan terbaik sekarang adalah memangkas kerugian dan mengakhirinya. Itulah satu-satunya cara untuk mencegah bencana yang lebih besar.”





