Jalan Gito-Gati merupakan sebuah ruas jalan di daerah Sariharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman. Ruas Jalan Gito-Gati yang menghubungkan Jalan Palagan dengan Jalan Magelang, dimulai dari simpang empat Wonorejo (Kamdanen) hingga ke simpang empat Gondanglegi. Bagi masyarakat setempat, ruas jalan sepanjang hampir dua kilometer ini memang tidak asing dan setiap hari cukup ramai kendaraan yang melintas. Dikutip dari akun Instagram @perpusarsipsleman, nama ruas jalan ini diambil dari nama seniman legendaris asal Sleman, yaitu Sugito dan Sugati.
Sosok Seniman di Balik Nama Jalan Gito-Gati Sugito dan Sugati adalah seniman kelahiran Dusun Pajangan, Desa Pandowoharjo, Sleman, 30 Desember 1936. Keduanya merupakan anak kembar dari dalang ternama Ki Cermo Taruna dan ibu bernama Juwok. Selain memiliki darah seni diturunkan dari sang ayah, sejak kecil Sugito dan Sugati kerap mengasah bakat masing-masing dalam berkesenian. Keduanya terbiasa berlatih bermain wayang dan ikut dengan sang ayah ketika menghadiri undangan pentas. Karena alasan itu juga, mereka tidak tamat sekolah rakyat. Meski begitu, bakat Sugito dan Sugati semakin terlihat dan pada usia 16 tahun mereka sudah bisa mementaskan wayang dengan baik.
Mereka juga bergantian mengambil peran dalam sebuah pementasan. Seperti ketika Sugito mendalang maka Sugati akan mengendang, begitupun sebaliknya. Seiring dengan pengalaman yang didapat, terlihat perbedaan karakter di antara keduanya. Meski kembar, Sugito memiliki karakter santai dan humoris sementara Sugati cenderung lebih serius dalam berperan. Namun ketika di atas panggung, sebagai saudara kembar mereka tetap bisa saling memahami satu sama lain. Duet keduanya kemudian semakin populer hingga akhirnya dikenal dengan nama Gito Gati. Lihat Foto Sugito dan Sugati, dua seniman di balik nama Jalan Gito-Gati di Sleman.(Instagram @perpusarsipsleman) Mengembangkan Seni Ketoprak dan Mendirikan PS Bayu Dalam berkesenian, awalnya Sugito dan Sugati menekuni seni pedalangan, karawitan, dan ketoprak. Namun belakangan, nama Gito Gati lebih dikenal dalam pementasan Ketoprak Mataram bersama beberapa seniman lokal lainnya.
Pada masa itu, pementasan ketoprak yang dilakukan Gito Gati pasti akan menyedot perhatian masyarakat karena kerap memancing tawa. Gito dan Gati kemudian mendirikan Paguyuban Seni Bagian Yogya Utara yang disingkat PS Bayu yang menjadi wadah untuk berkesenian. Pada perkembangannya, tidak hanya seniman dari Sleman saja yang turut serta, namun ada juga seniman dari Yogyakarta yang ikut tampil melalui PS Bayu. Seiring berjalannya waktu, PS Bayu berhasil mengembangkan kesenian ketoprak, wayang orang, serta wayang kulit di tengah kehidupan masyarakat setempat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.
Pada tahun 1978, PS Bayu dengan ketopraknya sering pentas di TVRI dan salah satu lakonnya yaitu Lakone Jambul Ombak Segara Kidul (Jambul Krama Yuda) pun meledak dan laris manis. Dari desa kecil itu, PS Bayu kemudian dikenal hingga ke seluruh wilayah DIY dan Jawa Tengah. Nama Gito Gati juga semakin dikenal masyarakat luas sebagai pelawak dan seniman ketoprak dengan berbagai lakon. Hingga akhir hayatnya, Sugito dan Sugati mengabdikan dirinya dalam bidang kesenian. Jejak tersebut kemudian juga diikuti oleh anak-anaknya. Diabadikan sebagai Nama Jalan Sebagai bentuk penghargaan, nama kedua seniman ini kemudian diabadikan sebagai nama jalan di Sleman. Dikutip dari laman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, peresmian nama Jalan Gito-Gati dilakukan tepat di Hari Ulang Tahun Pemerintah Kabupaten Sleman ke-95 pada tanggal 15 Mei 2011.





