Sleman,REDAKSI17.COM – Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki kekhasan sebagai daerah berbasis pendidikan dan kebudayaan. Oleh karena itu, pembangunan olahraga di DIY seyogianya tidak semata berorientasi pada perolehan medali, tetapi juga pada pembentukan karakter atlet.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan hal demikian saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) KONI DIY Tahun 2026, pada Sabtu (14/02) pagi. Bertempat di Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta, Rakerda ini mengusung tema “Kuatkan Koordinasi Meraih Prestasi”.
“Dalam pandangan Jawa, kesempurnaan hidup tercapai ketika cipta, rasa, dan karsa berada dalam keselarasan. Manusia yang utuh adalah manusia yang mampu menyelaraskan pikiran, menata batin, serta mengarahkan kehendaknya pada kebaikan. Olahraga, dalam kerangka ini, bukan hanya soal kekuatan otot atau kecepatan langkah,” terang Sri Sultan.
Maka, menurut Sri Sultan, olahraga adalah laku disiplin. Ia adalah latihan pengendalian diri, ketekunan, daya juang, serta sportivitas. Di mana, dalam setiap latihan dan pertandingan, sesungguhnya seorang atlet sedang menempa bukan hanya raganya, tetapi juga budinya.
“Di situlah makna ‘manunggaling raga lan jiwa’ menemukan relevansinya. Karena itu, pembinaan atlet di DIY harus dirancang sebagai proses yang menyeluruh,” ujar Sri Sultan.
Seperti, regenerasi harus dibangun secara sistematis, mulai dari usia dini, pembibitan di sekolah, hingga pembinaan atlet elite. Dikatakan Sri Sultan, DIY beruntung memiliki ekosistem pendidikan yang kuat serta perguruan tinggi yang unggul. Kolaborasi antara KONI, pemerintah daerah, sekolah, dan perguruan tinggi pun perlu diperkuat, termasuk pemanfaatan sport science, analisis data prestasi, dan pendekatan ilmiah dalam pembinaan.
“Di sisi lain, tata kelola organisasi menjadi fondasi yang tidak dapat ditawar. Profesionalisme dalam pengelolaan program, akuntabilitas dalam penggunaan anggaran, serta transparansi dalam pelaporan merupakan syarat utama menjaga kepercayaan publik. Olahraga yang berprestasi harus berjalan beriringan dengan tata kelola yang berintegritas,” ungkap Sri Sultan.
Lebih lanjut, Sri Sultan menambahkan, bahwa Sri Sultan juga memandang olahraga sebagai bagian dari ketahanan sosial dan pembangunan sumber daya manusia. Di tengah tantangan zaman, seperti arus digitalisasi, perubahan gaya hidup, serta berbagai dinamika sosial, olahraga menjadi ruang pembelajaran nilai.
“Di lapangan olahraga, generasi muda belajar tentang kerja sama, tentang menerima kekalahan dengan lapang dada, dan tentang bangkit dengan semangat baru. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi peradaban,” sebut Sri Sultan.
Ke depan, Sri Sultan turut berharap KONI DIY mampu memposisikan diri bukan hanya sebagai pengelola cabang olahraga, tetapi sebagai penggerak ekosistem olahraga daerah. Ekosistem yang sehat, kolaboratif, dan berorientasi jangka panjang.
“Prestasi harus menjadi hasil dari sistem yang kokoh, bukan sekadar momentum sesaat. Saya mengajak seluruh jajaran KONI DIY untuk menjadikan Rakerda ini sebagai momentum memperkuat sinergi dan memperjelas target capaian. Mari kita bangun olahraga DIY dengan semangat kebersamaan, profesionalisme, dan integritas, demi kejayaan daerah dan kebanggaan masyarakat Yogyakarta,” pungkas Sri Sultan.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X sekaligus Ketua Umum KONI DIY menuturkan, Rakerda ini adalah momentum strategis untuk melakukan evaluasi, konsolidasi, dan perumusan langkah-langkah konkret untuk peningkatan prestasi olahraga daerah. Sebab, disadari bahwa tantangan ke depan semakin kompleks.
“Oleh karena itu, peningkatan koordinasi dalam pembinaan prestasi olahraga daerah menjadi hal yang mutlak. Pembinaan tidak boleh berjalan parsial. Antarbidang harus saling terhubung, terintegrasi, dan sinkron dalam perencanaan maupun pelaksanaan program,” jelas Sri Paduka.
Selai itu, konsolidasi internal juga perlu diperkuat. Pun, memastikan bahwa setiap kebijakan, setiap program, dan setiap alokasi anggaran benar-benar selaras dengan target prestasi yang ingin dicapai. “Tidak boleh ada lagi ego sektoral. Yang ada adalah semangat kolektif untuk kemajuan olahraga DIY,” imbuh Sri Paduka.
Sri Paduka turut menyampaikan, tantangan terdekat adalah menyukseskan pelaksanaan PORDA 2027 yang menjadi barometer hasil pembinaan sekaligus wahana penjaringan atlet potensial. Oleh karena itu, penyelenggaraan PORDA 2027 harus dipersiapkan secara profesional, tertib administrasi, dan berkualitas dari sisi teknis pertandingan.
Terlebih lagi, KONI Pusat telah menekankan bahwa PON 2028 akan memprioritaskan nomor-nomor olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade. Hal ini menjadi sinyal kuat bagi segenap pihak bahwa strategi pembinaan dan alokasi anggaran harus disesuaikan.
“Kita dituntut untuk lebih selektif, lebih strategis, dan lebih berbasis data dalam menentukan arah kebijakan. Kita harus membangun sistem pembinaan berjenjang yang kuat, memperkuat sport science, meningkatkan kualitas pelatih, serta memastikan kesejahteraan atlet agar mereka dapat berlatih secara optimal. Semua ini membutuhkan kerja keras, kebersamaan, dan komitmen yang konsisten,” tegas Sri Paduka.
Humas Pemda DIY





