Sumbar,REDAKSI17.COM-Peta kekuatan calon presiden (Capres) di Sumatera Barat mulai terlihat dari hasil survei terbaru yang dirilis Indikator Politik Indonesia.
Dalam berbagai simulasi yang dilakukan, nama Prabowo Subianto konsisten mendominasi elektabilitas, jauh melampaui sejumlah tokoh nasional lainnya.
Survei ini, dilaksanakan pada periode 19 hingga 29 November 2025 dengan melibatkan 1.200 responden yang memiliki hak pilih di Sumatera Barat.
Metode wawancara dilakukan secara tatap muka langsung oleh enumerator, dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Hasilnya menunjukkan dominasi Prabowo Subianto tidak tergoyahkan dalam berbagai skenario simulasi, mulai dari daftar panjang hingga pilihan terbatas tiga nama.
Pada simulasi 10 nama, Prabowo Subianto mencatatkan elektabilitas sebesar 56,2 persen.
Angka tersebut terpaut cukup jauh dari Anies Baswedan yang berada di posisi kedua dengan 25,1 persen.
Sementara itu, nama lain seperti Dedi Mulyadi, Agus Harimurti Yudhoyono, dan Ganjar Pranowo mencatatkan angka yang jauh lebih rendah.
Ketika jumlah kandidat dipersempit menjadi lima nama, tren keunggulan Prabowo Subianto justru semakin menguat.
Elektabilitasnya meningkat menjadi 57,8 persen, sementara Anies Baswedan tetap berada di posisi kedua dengan 27,4 persen.
Kandidat lain seperti Dedi Mulyadi dan Gibran Rakabuming Raka hanya memperoleh dukungan di bawah 6 persen.
Dominasi tersebut semakin terlihat jelas dalam simulasi tiga nama. Prabowo Subianto mencatatkan angka tertinggi sebesar 60,2 persen, disusul Anies Baswedan dengan 29,3 persen, sementara Gibran berada jauh di bawah dengan 1,6 persen.
Sisanya merupakan responden yang belum menentukan pilihan.
Temuan ini menunjukkan bahwa basis dukungan Prabowo Subianto di Sumatera Barat masih sangat kuat dibandingkan kandidat lain.
Dalam berbagai skenario, jarak elektabilitas antara Prabowo Subianto dan pesaing terdekatnya tetap signifikan.
Survei ini sekaligus menjadi gambaran awal dinamika politik menjelang kontestasi pemilihan presiden mendatang.
Meski demikian, peta dukungan masih sangat mungkin berubah seiring perkembangan isu politik dan pergerakan para tokoh di tingkat nasional maupun daerah.





