Jetis,REDAKSI17.COM – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan inovasi pemerintahan harus berdampak nyata dan mendobrak tatanan, bukan sekadar mengejar kenaikan indeks. Hal itu disampaikan dalam Bimtek Inovasi Daerah Innovative Government Award (IGA), Kamis (12/2/2026) di Khas Tugu Hotel.

Menurut Hasto, quick win yang dijalankan Pemkot bukan untuk menaikkan skor, melainkan mendorong perubahan.

“Kalau indeks tinggi tapi tidak ada perubahan, tidak ada artinya. Fokus kita perubahan, indeks naik itu efek samping,” ujarnya.

Bimtek Inovasi Daerah Innovative Government Award (IGA).

Ia mengingatkan, Yogyakarta tidak bertumpu pada sumber daya alam, melainkan kreativitas sumber daya manusia. Karena itu, aparatur diminta tidak hanya bekerja secara administratif, tetapi berkarya dan menciptakan terobosan.

Pihaknya juga menyinggung tantangan kota yang memasuki fase growing old before growing rich atau menua sebelum kaya. Kondisi ini menuntut inovasi yang memperkuat ekonomi lokal dan mengendalikan perputaran uang agar tidak banyak keluar daerah.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah pengembangan Warung Milik Rakyat (Wamira) di 45 kelurahan untuk mengendalikan harga, memprioritaskan produk lokal, serta menyalurkan bantuan secara lebih terarah.

Bimtek Inovasi Daerah Innovative Government Award (IGA).

“Batik Segoro Amarto Reborn juga sama, produsennya ya warga kita sendiri, UMKM, lewat koperasi, jadi bela beli produk sendiri, menekan capital flight,” tandasnya.

Ia menutup dengan pesan agar inovasi tidak berhenti pada dokumen atau penghargaan, tetapi benar-benar mengubah pola pikir dan sistem kerja.

“Mulai dari yang kecil, lihat peluang atau ciptakan peluang,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Yogyakarta Agus Tri Haryono menyebut kegiatan Bimtek ini sebagai komitmen Pemkot memperkuat tata kelola inovasi daerah, tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi kualitas, kematangan, dan dampaknya.

Ia memaparkan capaian IGA Kota Yogyakarta terus meningkat. Pada 2024, Yogyakarta meraih predikat Kota Sangat Inovatif dengan nilai 62,38 melalui 44 inovasi. Tahun 2025 nilainya naik menjadi 69,64 dengan 66 inovasi.

“Capaian ini patut disyukuri, tetapi belum titik akhir. Untuk melompat menjadi kota terinovatif, perlu upaya yang lebih terstruktur, sistematis, dan kolaboratif,” jelasnya.

Agus menegaskan inovasi harus memperkuat Yogyakarta sebagai center of referral dan center of excellence dalam tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik. Artinya, inovasi daerah harus bisa direplikasi oleh daerah lain sekaligus unggul dari sisi substansi, tata kelola, keberlanjutan, dan dampak bagi masyarakat.