Yogyakarta,REDAKSI17.COM — Di sisi selatan Kota Yogyakarta, Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG) tampil sebagai ruang publik terpadu yang menghidupkan seni, budaya, dan aktivitas masyarakat. Kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang bersama yang terbuka, inklusif, dan ramah lingkungan bagi warga dari berbagai latar belakang.
Berlokasi di Jalan Tegalturi, Kalurahan Giwangan, Kemantren Umbulharjo, TBEG dikelola oleh UPT Pengelolaan Taman Budaya di bawah Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta. Kehadirannya memperkuat upaya Pemerintah Daerah DIY dalam menyediakan ruang publik berkualitas sekaligus mendorong pelestarian dan pengembangan seni budaya.
Dibangun di atas lahan seluas sekitar 3,4 hektare, hampir sepertiga kawasan TBEG berupa embung yang berfungsi sebagai penampung air hujan. Selain mendukung konservasi air, embung tersebut menjadi elemen lanskap utama yang membentuk karakter kawasan serta menciptakan ruang terbuka yang sejuk dan nyaman.
Sejak beroperasi pada 2024 dan diresmikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 23 Mei 2025, TBEG berkembang menjadi ruang publik yang aktif dimanfaatkan masyarakat. Setiap hari, kawasan ini menjadi tempat beragam aktivitas, mulai dari latihan komunitas seni, permainan anak di ruang terbuka hijau, hingga olahraga warga di lintasan joging yang mengelilingi embung.
Dari sisi fasilitas, TBEG dilengkapi Gedung Entrance bergaya Indische yang difungsikan sebagai ruang rapat dan mini galeri produk seni budaya. Di sisi barat kawasan, tersedia panggung terbuka berbentuk tapal kuda dengan kapasitas lebih dari 500 penonton, memungkinkan pertunjukan seni disaksikan dari berbagai sudut pandang.
Kepala Seksi Kerja Sama dan Pemasaran UPT Pengelolaan Taman Budaya, Nia Dianti, menyampaikan bahwa TBEG dirancang sebagai ruang publik yang dapat diakses dan dimanfaatkan seluruh lapisan masyarakat. “Taman Budaya Embung Giwangan disiapkan untuk mendukung pengembangan dan pelestarian kebudayaan. Seniman, pelajar, komunitas, hingga masyarakat umum dapat menggunakan berbagai venue yang tersedia untuk berekspresi dan berkegiatan,” ujarnya.
Menurut Nia, keberadaan TBEG juga memberi dampak ekonomi bagi warga sekitar. Setiap Minggu pagi, kawasan ini rutin menggelar Pasar Minggu yang membuka peluang bagi pelaku UMKM Giwangan dan sekitarnya untuk memasarkan produk unggulan.
“Ramainya pengunjung ikut menggerakkan ekonomi lokal. Selain itu, TBEG menjadi pusat kegiatan seni budaya terjadwal. Melalui kerja sama dengan Jogja Tourism Training Center (JTTC), digelar Jogja Culture Show setiap Sabtu, dengan penambahan jadwal pada masa libur panjang,” jelasnya.
Dalam pengelolaannya, TBEG menyediakan fasilitas gratis maupun berbayar. Pemanfaatan auditorium, ruang pamer, dan kios kuliner dapat diajukan melalui pengelola dengan prosedur yang sederhana dan transparan, baik secara langsung maupun melalui layanan hotline serta kanal media sosial resmi.
Dibangun dengan dukungan Dana Keistimewaan, Taman Budaya Embung Giwangan diharapkan terus berkembang sebagai pusat aktivitas seni budaya sekaligus ruang publik unggulan di kawasan selatan Kota Yogyakarta yang berkelanjutan. Informasi agenda kegiatan seni budaya di TBEG dapat diakses melalui laman www.tbeg.co.id dan akun Instagram @tamanbudaya.embunggiwangan. Pengelola juga menyediakan layanan hotline di nomor 0823-3873-4331.
Humas Pemda DIY




