Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Perdagangan kembali menggelar operasi pasar secara intensif guna menjaga stabilitas harga bahan pokok di bulan suci Ramadan dan Idul Fitri. Langkah ini diambil sebagai bentuk kehadiran pemerintah dalam mengendalikan fluktuasi harga yang kerap terjadi akibat meningkatnya permintaan masyarakat pada momentum hari besar keagamaan.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih dalam sambutannya menyatakan bahwa operasi pasar ini merupakan sebuah keniscayaan dan kewajiban pemerintah daerah untuk menjaga daya beli masyarakat serta mencegah terjadinya inflasi.
“Momentum seperti Ramadan dan Lebaran seringkali memicu kenaikan harga jika permintaan tinggi namun pasokan barang terbatas.” ujar Bupati.
Melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan seperti RNI, Fortune, BULOG, dan Bank Indonesia (BI), pemerintah berupaya meringankan beban ekonomi warga.
“Operasi pasar ini memang dibutuhkan untuk membantu masyarakat, sehingga nilai jualnya pun lebih rendah daripada harga eceran di pasaran,” ujar Bupati setelah memberikan secara simbolis kepada pedagang distributor di Pasar Argosari, Selasa, (24/2/2026).
Di sisi lain, Bupati juga menyoroti keluhan para pedagang pasar terkait penurunan omzet akibat persaingan dengan penjualan daring (online) serta perubahan pola belanja masyarakat.
“Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah daerah dalam merumuskan solusi bagi kelangsungan UMKM dan pedagang tradisional ke depan.” pungkasnya.
Kepala Dinas Perdagangan, Kelik Yuniantoro menjelaskan bahwa dalam operasi pasar kali ini, pihaknya menyiapkan total 10 ton komoditas yang terdiri dari 3.500 kg gula pasir dan 6.500 liter minyak goreng. Distribusi dilakukan melalui 40 pedagang yang tersebar di beberapa titik, antara lain Pasar Argosari, Pasar Semin, Pasar Ponjong, Pasar Wonosari, dan Pasar Semanu.
“Harga yang ditawarkan dalam operasi ini dipastikan di bawah harga pasar, seperti gula pasir yang saat ini menyentuh harga Rp17.500 per kilogram di pasaran, dijual hanya seharga Rp15.500 melalui program ini.” kata Kelik.
Demikian pula dengan minyak goreng yang disubsidi sehingga masyarakat dapat memperolehnya dengan selisih harga Rp2.000 hingga Rp2.500 lebih murah dari harga normal.
Untuk memastikan bantuan ini tepat sasaran bagi masyarakat prasejahtera, pemerintah memberlakukan pembatasan pembelian. Setiap warga hanya diperbolehkan membeli maksimal dua kemasan atau dua liter. Hal ini dilakukan untuk mencegah aksi borong oleh oknum yang berniat menjual kembali barang tersebut dengan harga tinggi di luar pasar.
Selain memantau harga sembako, pemerintah juga mencatat adanya kenaikan pada komoditas lain seperti cabai rawit yang terjadi secara menyeluruh di berbagai daerah. Kegiatan operasi pasar ini telah rutin dilaksanakan sejak Januari dan direncanakan akan terus berlanjut hingga bulan Maret mendatang dengan alokasi tambahan sekitar 10 ton lagi guna memastikan harga tetap terkendali hingga masa Lebaran tiba.




