WATU WONA, REDAKSI17.COM – Di tengah tantangan zaman dan derasnya arus individualisme, Organisasi Tokoh Pemuda Desa Watu Wona hadir sebagai ruang persatuan, pengabdian, dan harapan bagi generasi muda desa. Organisasi ini dibentuk atas dasar semangat kebersamaan dan kepedulian sosial, serta dipimpin oleh Martinus Jaha Bara selaku ketua.
Pembentukan Organisasi Tokoh Pemuda Desa Watu Wona bukan sekadar wadah struktural, melainkan lahir dari keresahan sekaligus cinta anak muda terhadap desanya. Melalui organisasi ini, para pemuda diajak untuk kembali meneguhkan nilai-nilai luhur, seperti saling menopang, saling mendoakan, dan saling menguatkan, baik dalam suka maupun duka.
Ketua Tokoh Pemuda Desa Watu Wona, Martinus Jaha Bara, menegaskan bahwa anak muda desa memiliki peran strategis sebagai penjaga nilai kemanusiaan dan persaudaraan.
“Anak muda tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Kita harus hadir untuk sesama, karena kekuatan desa lahir dari persatuan. Organisasi ini dibentuk agar kita belajar memberi, bukan hanya menuntut,” ujarnya.

Organisasi Tokoh Pemuda Desa Watu Wona secara aktif menanamkan semangat gotong royong melalui berbagai aksi sosial, kepedulian kemanusiaan, serta pendampingan moral bagi sesama warga desa. Mulai dari mendampingi keluarga yang berduka hingga saling menyokong dalam kesulitan hidup, para pemuda diajak untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan orang lain.
Lebih dari itu, organisasi ini menjadi ruang pembentukan karakter bagi generasi muda. Para pemuda dilatih untuk memiliki empati, tanggung jawab sosial, serta keberanian untuk menjadi pribadi yang berguna bagi lingkungan sekitarnya. Nilai kebersamaan yang dibangun tidak bersifat sementara, melainkan menjadi fondasi jangka panjang dalam membangun Desa Watu Wona yang kuat dan bermartabat.
“Kita mungkin tidak kaya harta, tetapi kita kaya kepedulian. Dari desa kecil inilah kita belajar arti besar sebuah persaudaraan,” tambah Martinus.
Semangat yang dihidupi oleh Tokoh Pemuda Desa Watu Wona menjadi inspirasi bahwa masa depan desa berada di tangan anak mudanya. Ketika pemuda bersatu, tidak ada duka yang harus ditanggung sendiri, dan tidak ada beban yang terlalu berat untuk dipikul bersama.
Dalam semangat tersebut, Keluarga Besar Tokoh Pemuda Desa Watu Wona turut menyampaikan dukacita yang mendalam atas berpulangnya Almarhum Lukas Lere Tuku ke rumah Bapa di Surga. Ungkapan belasungkawa ini diwujudkan melalui kehadiran langsung para tokoh pemuda yang melayat ke rumah duka sebagai bentuk solidaritas dan persaudaraan.
Dalam suasana duka yang penuh haru, sejumlah kawan hadir dan berpartisipasi aktif, baik melalui doa maupun dukungan moril kepada keluarga yang ditinggalkan. Selain itu, Organisasi Tokoh Pemuda Desa Watu Wona juga menyerahkan sumbangan dana sebesar Rp3.100.000 (tiga juta seratus ribu rupiah) Pada Sabtu (17/1/2026).
Dana tersebut merupakan hasil sumbangan sukarela dari anak muda/i Desa Watu Wona, yang dihimpun secara bersama-sama sebagai wujud kepedulian dan cinta kasih terhadap sesama.
“Kami bersatu padu di dalam grup, bahu-membahu satu sama lain, saling mendoakan dan saling memberi. Inilah wujud cinta kami sebagai anak muda/i untuk Desa Watu Wona tercinta,” ungkap salah satu perwakilan tokoh pemuda.
Dalam kesempatan itu, Martinus Jaha Bara juga menyampaikan ungkapan belasungkawa secara langsung kepada keluarga Almarhum.
“Atas nama pribadi dan seluruh Tokoh Pemuda Desa Watu Wona, saya menyampaikan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Almarhum Lukas Lere Tuku. Semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi kekuatan, penghiburan, dan ketabahan,” ujarnya.
Ia turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh kawan-kawan pemuda yang telah berpartisipasi dan menunjukkan kepedulian nyata dalam peristiwa duka tersebut.
“Terima kasih untuk seluruh kawan-kawan. Kita semua luar biasa. Semoga setiap kebaikan yang kita tanam hari ini dibalas Tuhan dengan kelancaran dalam segala urusan dan langkah hidup ke depan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Martinus menegaskan bahwa solidaritas dan kepedulian sosial merupakan nilai penting yang harus terus dirawat oleh generasi muda desa.
“Anak muda bukan hanya berbicara tentang masa depan, tetapi tentang bagaimana kita hadir hari ini untuk sesama. Dari duka kita belajar arti kebersamaan, dari memberi kita belajar menjadi manusia seutuhnya.”
Kehadiran dan partisipasi Tokoh Pemuda Desa Watu Wona ini menjadi cermin kekuatan persatuan generasi muda desa, bahwa dalam suka maupun duka, kebersamaan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun desa yang berdaya, beriman, dan berperikemanusiaan.




