Home / Tokoh Kita / Tokoh Perpustakaan Jalanan

Tokoh Perpustakaan Jalanan

Foto: Ilustrasi
Di tengah hiruk-pikuk kota di Filipina, ada sebuah rumah sederhana yang dipenuhi ribuan buku dari lantai hingga tangga. Tempat ini bukan perpustakaan biasa. Tidak ada biaya, kartu anggota, atau batas waktu. Siapa pun boleh datang, membaca, meminjam, bahkan membawa pulang buku secara gratis. Inilah Reading Club 2000, ruang belajar yang dibangun dari kepercayaan.
Semua bermula dari satu orang: Hernando Guanlao, atau akrab dipanggil Mang Nanie. Sekitar tahun 2000, ia mengubah rumah pribadinya menjadi perpustakaan terbuka sebagai bentuk penghormatan kepada orang tuanya yang menanamkan kecintaan pada membaca. Awalnya hanya puluhan buku lama miliknya, namun perlahan koleksinya bertambah menjadi ribuan berkat donasi dari banyak orang yang ingin berbagi ilmu.
Rak buku di tempat ini tidak selalu rapi, bahkan sebagian buku tersusun di meja, kursi, hingga halaman rumah. Koleksinya beragam: buku pelajaran, novel, majalah, buku agama, hingga filsafat. Banyak pengunjung datang setelah sekolah, membaca di tempat, atau membawa pulang buku tanpa kewajiban mengembalikan. Anehnya, meski tanpa aturan ketat, buku-buku terus bertambah karena orang-orang dengan sukarela ikut berdonasi.
Mang Nanie percaya bahwa akses terhadap ilmu tidak seharusnya dibatasi oleh uang. Ia bahkan mengirim buku ke daerah terpencil di Filipina agar lebih banyak anak bisa belajar. Baginya, membaca adalah cara sederhana untuk membantu masa depan generasi berikutnya.
Di dunia di mana hampir semua hal memiliki harga, rumah kecil ini berdiri sebagai simbol kepercayaan, kepedulian, dan semangat berbagi. Sebuah pengingat bahwa satu orang pun bisa membuka pintu pengetahuan bagi banyak orang.
Sumber: Reuters, GMA News, PhilSTAR Life, Esquire Philippines, The Urban Roamer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *