Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Secara umum pelaksanaan program Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kota Yogyakarta sepanjang 2025 telah berjalan baik dan memenuhi target yang ditetapkan. Bahkan, sebagian program tercatat melampaui rencana awal. Adapun capaian yang belum sepenuhnya terpenuhi lebih disebabkan proses pengolahan data yang masih berjalan hingga triwulan ketiga dan diproyeksikan dapat terealisasi pada akhir tahun.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Aman Yuriadijaya, saat menghadiri Rapat Pleno Capaian dan Evaluasi Program Kerja TPAKD Tahun 2025 di Ruang Yudistira, Kompleks Balai Kota Yogyakarta, Rabu (17/12).
“Yang belum memenuhi target itu lebih karena soal data yang masih diproses sampai triwulan ketiga. Insyaallah di akhir triwulan keempat bisa memenuhi apa yang direncanakan,” ujarnya.
Aman juga menyinggung rencana kehadiran galeri investasi di Mal Pelayanan Publik (MPP) yang belum dapat direalisasikan pada 2025. Namun demikian, ia menyambut baik penjelasan dari perwakilan Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan yang merencanakan peningkatan status fasilitas tersebut, tidak hanya sebagai galeri, tetapi menjadi pusat transaksi dan literasi keuangan terpadu.
Menurutnya, penundaan tersebut justru menjadi langkah strategis untuk pengembangan yang lebih besar ke depan. “Ini mundur satu langkah untuk maju dua langkah. Bukan sekadar galeri, tetapi menjadi pusat transaksi literasi keuangan terpadu,” jelasnya.
Selain itu, Aman menggarisbawahi pentingnya integrasi antarprogram dan lintas sektor. Menurutnya, TPAKD tidak dapat berjalan secara parsial, melainkan harus terintegrasi dengan berbagai sistem dan tim lain agar peran, fungsi, dan kontribusi masing-masing dapat saling menguatkan.
“Kalau tumpang tindih, yang terjadi bukan produksi tetapi reproduksi. Maka perlu pemilahan peran dan kontribusi agar saling menguatkan, bukan saling meniadakan. Ke depan kita tidak lagi bicara hanya soal output, tetapi outcome. Ukurannya sudah pada indeks literasi dan indeks inklusi,” ungkapnya.
Sejalan dengan itu, Kepala Divisi Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY, Dinavia Tri Riandari, menyampaikan apresiasi terhadap berbagai program TPAKD di Kota Yogya yang dinilainya kreatif dan inovatif. Ia menyebut, dalam Rapat Koordinasi Daerah sebelumnya, narasumber dari OJK pusat juga memberikan penilaian positif terhadap program-program TPAKD di DIY.
“Program-program TPAKD di Kota Yogya ini sangat baik dan kreatif, bahkan istilah-istilahnya juga unik,” ungkapnya.
Dinavia juga optimistis sejumlah target transaksi, seperti QRIS serta Kredit PD dan Kredit Segunani, yang hingga triwulan ketiga belum sepenuhnya tercapai, dapat direalisasikan pada triwulan keempat. Ia menambahkan bahwa indeks inklusi keuangan nasional terus menunjukkan tren positif.

evaluasi proker TPAKD tahun 2025
Lebih lanjut, Dinavia memaparkan roadmap TPAKD 2026–2030 yang telah diluncurkan pada 10 Oktober lalu dalam Rakornas TPAKD, sekaligus menjadi momentum diraihnya TPAKD Award se-Jawa Bali oleh TPAKD Provinsi DIY. Roadmap tersebut disusun untuk mendukung RPJPN 2025–2045, RPJMN 2025–2029, serta visi Astacita Presiden, khususnya pada penguatan literasi dan inklusi keuangan daerah.
Menurutnya, transformasi TPAKD ke depan tidak lagi hanya menekankan pada akses keuangan, tetapi juga literasi dan inklusi keuangan secara komprehensif, sejalan dengan amanat Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Target indeks inklusi keuangan nasional pada 2029 sebesar 93 persen dan meningkat menjadi 98 persen pada 2045, sementara indeks literasi keuangan ditargetkan terus meningkat dari capaian 66,46 persen pada 2025.
“Meski akan ada transformasi, program TPAKD tetap difokuskan pada 10 kelompok sasaran, antara lain masyarakat berpenghasilan rendah, UMKM, perempuan, pelajar, santri, mahasiswa, pemuda, petani dan peternak, penyandang disabilitas, Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS), karyawan, serta calon pekerja migran Indonesia beserta keluarganya,” ungkap Dinavia.
Kepala Bagian Perekonomian dan Kerja Sama Setda Kota Yogyakarta, Danang Yulisaksono, memaparkan capaian rinci program kerja TPAKD Kota Yogyakarta Tahun 2025 yang difokuskan pada akselerasi pemanfaatan produk dan layanan pasar modal serta perluasan inklusi keuangan masyarakat. Dalam paparannya, Danang menyampaikan bahwa TPAKD Kota Yogyakarta membentuk Tim Literasi dan Edukasi Pasar Modal yang melibatkan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta untuk menjangkau sasaran prioritas secara lebih luas
Berbagai program tematik berhasil dilaksanakan, di antaranya Investasi Goes to School yang menjangkau lebih dari seribu pelajar SMA/SMK/MA, pembukaan rekening dana nasabah bagi pelajar, serta program UMKM Jogja Goes to Capital Market yang mendorong UMKM kreatif dan pertanian milenial mengakses pendanaan melalui skema securities crowdfunding. Dari program tersebut, sejumlah pelaku usaha berhasil lolos pendanaan dan memperoleh akses pembiayaan formal.
“Investasi Goes to School dilakukan kepada pelajar dengan memanfaatkan THR Lebaran. Kegiatannya peningkatan literasi keuangan berupa pengenalan produk pasar modal, khususnya reksa dana dan Optimalisasi Produk atau Layanan dengan pembukaan rekening dan nasabah RDN dari target 5 persen dari 702 siswa atau 35 RDN tercapai 81 akun RDN atau 51 siswa laki-laki dan 30 siswa perempuan,” terangnya.

Penyerahan hadiah kepada pemenang konten reels and tiktok
Selain itu, TPAKD Kota Yogyakarta juga menyasar aparatur sipil negara melalui program Astor Coklat (ASN Jadi Investor, Cerdas Kelola Keuangan dan Aset), kelompok perempuan melalui INVESTARA, penyandang disabilitas melalui INVESTabilitas, petani melalui INVESTani.
“Untuk generasi muda melalui kompetisi digital Reels dan TikTok Investing Challenge yang mengangkat literasi investasi dengan pendekatan kreatif berbasis budaya lokal. Pelaksanaannya ada 15 peserta dan ditetapkan 3 pemenang,” ungkap Danang.
Pada sektor transaksi non-tunai dan pembiayaan, Danang menjelaskan bahwa TPAKD Kota Yogyakarta mengimplementasikan program Jogja Cashless Zone dan Ramadhan Cashless Jogokaryan untuk memperluas penggunaan QRIS di pusat-pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Hingga triwulan ketiga 2025, ratusan transaksi non-tunai tercatat di kios Segoro Amarto dan puluhan merchant telah mengadopsi QRIS sebagai metode pembayaran utama
“Targetnya 600 transaksi di empat kios Segoro Amarto namun capaiannya tercapai 595 transaksi sampai dengan triwulan 3. Mungkin nanti di triwulan 4 ada rekap lagi dengan nominal transaksi sebesar Rp28.329.380,” jelasnya.


