Washington,REDAKSI17.COM – Selama ini publik internasional cenderung melihat Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai satu paket dalam kebijakan keras terhadap Iran.
Keduanya dikenal sama-sama memiliki sikap tegas terhadap Teheran, bahkan sering dianggap berada dalam satu garis strategi untuk melemahkan Iran di Timur Tengah.
Namun laporan terbaru menunjukkan fakta yang justru berlawanan.
Trump dilaporkan menolak keras usulan Netanyahu agar Amerika Serikat secara terbuka mendorong rakyat Iran turun ke jalan untuk memicu pemberontakan sipil.
Bagi Trump, langkah tersebut terlalu berisiko dan berpotensi menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar.
Penolakan ini bukan sekadar perbedaan pendapat taktis, melainkan sinyal perubahan besar dalam doktrin luar negeri Amerika Serikat pada periode kedua Trump tahun 2026.
Jika pada masa lalu Washington kerap mendukung perubahan rezim di negara lawan, kini pendekatan Trump terlihat jauh lebih pragmatis, transaksional, dan berorientasi pada stabilitas yang bisa dikendalikan.
Dengan kata lain, Washington kini tidak lagi selalu sejalan dengan Tel Aviv dalam semua hal, terutama soal masa depan Iran.
‘Regime Change’ vs ‘Strategic Deal’
Dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com, Perbedaan paling mendasar antara Netanyahu dan Trump terletak pada tujuan akhir mereka terhadap Iran.
Bagi Netanyahu, perubahan rezim (regime change) adalah tujuan strategis utama. Israel memandang Iran yang dipimpin oleh rezim ulama sebagai ancaman eksistensial jangka panjang.
Selama rezim itu masih berkuasa, Israel merasa ancaman militer dan jaringan proksi Iran di Timur Tengah akan tetap ada.
Sebaliknya, Trump memiliki pendekatan berbeda. Ia lebih tertarik pada strategic deal, kesepakatan besar yang mencakup nuklir, keamanan kawasan, dan ekonomi.
Kesepakatan semacam ini bisa ia klaim sebagai kemenangan diplomatik besar Amerika Serikat pada 2026.
Trump juga tidak ingin mengulangi kesalahan kebijakan luar negeri AS di masa lalu, seperti dalam Iraq War dan intervensi di Libya Intervention, yang berhasil menggulingkan rezim tetapi justru menciptakan kekacauan berkepanjangan.





