Washington,REDAKSI17.COM – Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, kembali menjadi sorotan di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Iran.
Dalam sejumlah kesempatan, Trump menyatakan bahwa kekuatan militer Iran telah melemah dan bahkan mengklaim kemenangan. Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan bahwa Iran masih terus melakukan serangan balasan sejak akhir Februari 2026, menandakan konflik belum sepenuhnya mereda.
Di tengah situasi tersebut, Trump secara eksplisit menyinggung konsep lama, “To the Victor Belong the Spoils” atau “Bagi Pemenang, Miliklah Jarahannya.”
“Saya adalah seorang pebisnis. Kita telah menghabiskan banyak hal untuk keamanan global, dan sudah saatnya prinsip pemenang mendapatkan hasil diterapkan kembali,” ujar Trump di depan awak media.
Ia juga menyinggung kemungkinan pengenaan tarif terhadap jalur perdagangan strategis dunia.
“Kita bisa mengenakan tarif pass-through. Mengapa tidak? Kita adalah pemenangnya. Iran telah kalah secara militer, dan kita tidak akan membiarkan mereka terus mengancam dunia dengan ranjau-ranjau di air,” tambahnya.
Pernyataan tersebut memicu perdebatan luas. Sejumlah pengamat menilai pendekatan ini berpotensi bertentangan dengan prinsip hukum internasional, sementara pihak lain melihatnya sebagai bagian dari strategi negosiasi dalam situasi tekanan tinggi.
Di sisi lain, klaim kemenangan yang disampaikan Washington juga dihadapkan pada fakta bahwa aktivitas militer Iran masih berlangsung. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa konflik tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga dalam ruang persepsi dan narasi global.
Situasi yang berkembang menempatkan dunia pada satu pertanyaan penting: apakah ini benar-benar fase akhir konflik, atau justru bagian dari dinamika yang lebih panjang?





