Home / Nasional dan Internasional / Trump Ultimatum Iran: Buka Selat Hormuz Sebelum Selasa Malam

Trump Ultimatum Iran: Buka Selat Hormuz Sebelum Selasa Malam

Washington, DC,REDAKSI17.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan peringatan keras bernada kasar pada Minggu (5/4/2026), dengan menyatakan bahwa Iran memiliki waktu hingga Selasa (7/4) malam untuk membuka kembali Selat Hormuz atau AS akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di negara itu.

Ancaman eskalasi terbaru dalam perang yang telah berlangsung selama lima minggu ini muncul setelah pasukan komando AS berhasil menyelamatkan awak kedua dari jet tempur F-15E yang jatuh. Operasi tersebut mengakhiri pencarian selama dua hari setelah pesawat itu jatuh di wilayah barat daya Iran.

Iran menyebarkan gambar yang menunjukkan puing-puing beberapa pesawat, namun tidak membantah bahwa pasukan AS telah menyelamatkan perwira yang sebelumnya berlindung di daerah pegunungan.

Trump telah beberapa kali memperpanjang tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

“Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat itu sekarang juga, kalian orang-orang gila, atau kalian akan hidup dalam neraka – LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J. TRUMP,” tulis Trump di platform media sosial Truth Social.

Secara terpisah, Trump kembali mengklaim bahwa ada “peluang bagus” tercapainya kesepakatan dengan Iran pada Senin, dengan mengatakan kepada Fox News bahwa negosiasi sedang berlangsung.

“Jika mereka tidak membuat kesepakatan dan dengan cepat, saya mempertimbangkan untuk menghancurkan semuanya dan mengambil alih minyaknya,” ujarnya.

Kemudian pada Minggu malam, ia kembali mengunggah pernyataan dengan tenggat waktu yang lebih spesifik: “Selasa, pukul 20.00 waktu Timur AS!”

Sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, Trump berulang kali mengatakan bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan.

Iran mengakui bahwa pesan telah disampaikan antara kedua pihak, termasuk melalui Pakistan. Namun, Teheran menegaskan belum memasuki pembicaraan damai.

Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf menanggapi ancaman terbaru dari Trump melalui unggahan di media social dengan mengatakan, “Langkah ceroboh Anda sedang menyeret AS ke dalam NERAKA hidup bagi setiap keluarga, dan seluruh kawasan kita akan terbakar karena Anda bersikeras mengikuti perintah Netanyahu.”

“Jangan salah: Anda tidak akan mendapatkan apa pun melalui kejahatan perang. Satu-satunya solusi nyata adalah menghormati hak-hak rakyat Iran dan mengakhiri permainan berbahaya ini.”

Unggahan bernada kasar Trump sendiri menuai kritik di Capitol Hill.

“Selamat Paskah, AS. Saat Anda pergi ke gereja dan merayakan bersama teman dan keluarga, Presiden AS sedang mengoceh seperti orang gila yang tidak terkendali di media sosial,” kata Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat Chuck Schumer di platform X.

“Ia mengancam kemungkinan kejahatan perang dan menjauhkan sekutu. Inilah dirinya, tetapi ini bukan siapa kita. Negara kita pantas mendapatkan yang jauh lebih baik.”

Penghancuran jembatan tertinggi di kawasan tersebut pada Kamis (2/4), yang dipuji di Iran sebagai keajaiban rekayasa, menandai fase baru yang suram dalam perang, di mana presiden AS mengancam akan membawa Iran kembali ke “zaman batu”.

Seorang insinyur yang terlibat dalam pembangunan jembatan tersebut merespons penghancuran jembatan oleh AS dalam wawancara di televisi Iran dengan mengatakan, “Kami membangun semuanya dengan kemampuan, tenaga kerja, dan sumber daya kami sendiri, dan saya merasa sangat malu pada diri saya sendiri karena tidak dapat membuat masyarakat memanfaatkannya.”

Dalam situasi perang, hukum internasional melindungi warga sipil dan objek sipil seperti infrastruktur, aturan yang tertuang dalam Konvensi Jenewa.

Oona A Hathaway, profesor hukum internasional di Universitas Yale, seperti dikutip dari laporan The Guardian mengatakan bahwa presiden AS tidak memberikan penjelasan yang dapat menjadikan objek sipil yang ia ancam sebagai target militer yang sah. Ia juga menyatakan bahwa negara-negara lain memiliki kewajiban untuk memastikan penghormatan terhadap Konvensi Jenewa, serta tidak membantu atau mendukung tindakan yang melanggar hukum.

“Jika serangan yang diancamkan ini dilakukan maka hal itu akan merupakan kejahatan perang,” tegas Hathaway. “Membuat sengsara penduduk sipil untuk mendapatkan keuntungan dalam perundingan tidaklah sah.”

Fasilitas manufaktur baja Iran, pabrik petrokimia, universitas, dan fasilitas medis semuanya telah dibombardir dalam serangan gabungan AS-Israel. Menurut otoritas Iran, sekitar 81.000 lokasi sipil rusak, termasuk 61.000 rumah, 19.000 lokasi komersial, 275 pusat medis, dan hampir 500 sekolah.

Dari Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengaku bahwa Israel telah menghancurkan 70 persen produksi baja Iran, dengan klaim bahwa fasilitas tersebut digunakan untuk membuat rudal. Ia mengonfirmasi pula serangan terhadap pabrik petrokimia.

Iran mampu mengambil kendali atas Selat Hormuz dengan mengancam dan menyerang kapal yang melintas di jalur tersebut, sehingga menciptakan tekanan besar terhadap perdagangan minyak yang menjadi titik kekuatan utama Teheran dalam konflik ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *