Depok,REDAKSI17.COM – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menjadi narasumber dalam Diskusi “Seni Berpikir Kritis di Era Post-Truth” pada Kamis (26/2/2026) di Auditorium FISIP UAJY yang merupakan event kolaborasi Kompas.com dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Dalam paparannya, Hasto menekankan pentingnya kemampuan membaca ekosistem kehidupan sebagai bekal menghadapi masa depan. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus memahami dinamika sosial, politik, dan lingkungan sekitarnya.
“Kalau kita ingin menjamin kehidupan dan masa depan, kita harus mampu membaca ekosistem. Kalau tidak, kita bisa terbentur-bentur, bisa tersesat,” ujarnya.

Ia menilai kepedulian terhadap isu politik dan sosial akan membantu seseorang memahami peta ekosistem secara komprehensif. Hasto menyoroti fenomena mahasiswa dengan indeks prestasi tinggi, namun kesulitan beradaptasi di dunia kerja karena kurang mengasah soft skill.
“Di kampus mungkin 90 persen kita diajarkan hard skill. Padahal di lapangan, 80 persen kesuksesan ditentukan oleh soft skill,” tegasnya.
Sebagai dokter yang masih aktif praktik, Hasto mencontohkan bahwa keberhasilan profesinya bukan semata ditentukan nilai akademik, melainkan kemampuan berkomunikasi dengan pasien. Menurutnya, komunikasi menjadi kunci agar ilmu yang dimiliki dapat diterima dan memberi manfaat.

“Ada dokter IP-nya tinggi tapi pasiennya tidak banyak, karena komunikasinya kurang. Sebaliknya, ada yang IP-nya biasa saja tapi pasiennya banyak. Idealnya tentu hard skill bagus, soft skill juga bagus,” tambahnya.
Ia pun mengajak mahasiswa untuk peduli terhadap lingkungan sekitar dan tidak membatasi diri hanya pada disiplin ilmu masing-masing.
Sementara itu, Dekan FISIP UAJY Victoria Sundari Handoko menyebut diskusi ini menjadi ruang kolaboratif antara media dan kampus dalam membangun profesionalitas mahasiswa yang disertai sikap kritis.
“Kami berharap ruang ini tidak berhenti pada acara hari ini, tetapi berlanjut dalam dialog-dialog berikutnya. Mahasiswa harus punya sikap kritis dan analitis terhadap berbagai situasi, khususnya isu politik saat ini,” ujarnya.
Victoria juga menyinggung pentingnya validasi informasi di era post-truth. Menurutnya, mahasiswa dan akademisi tidak boleh langsung percaya pada satu narasi, baik yang diperoleh dari pertemuan langsung maupun media sosial.
“Kita harus memvalidasi apa yang kita dengar, lihat, dan baca. Apakah benar atau tidak. Karena kita hidup di era post-truth,” tegasnya.
Diskusi ini diharapkan menjadi momentum bagi mahasiswa untuk mengasah nalar kritis, memperkuat soft skill, serta mampu membaca ekosistem sosial secara lebih utuh di tengah derasnya arus informasi dan disinformasi.



