SLEMAN,REDAKSI17.COM – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengajak kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) DIY mengambil peran aktif dalam menumbuhkan perubahan sosial dan kemandirian ekonomi. Mengingat kondisi saat ini banyak krisis dan tantangan masalah sosial dan ekonomi masyarakat. Pemerintah Kota Yogyakarta pada tahun ini  berupaya menumbuhkan ekonomi lokal dan mandiri dengan program Warung Milik Rakyat (Wamira).
Hal itu disampaikan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat menjadi narasumber sarasehan yang diadakan PMII DIY pada Sabtu (14/2/2026) sore di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Saresehan mengambil tema Transformasi Gerakan Meneguhkan PMII DIY Sebagai Katalisator Keadilan Eko-Sosial.
“Kami berharap PMII DIY sebagai gerakan mahasiswa harus bisa menghadapi tantangan, karena sekarang ini banyak sekali krisis. Sebagai suatu pergerakan harapannya akan mempercepat perubahan sosial dan ekonomi,” kata Hasto.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat menjadi narasumber sarasehan 

Hasto menyatakan kini generasi muda menjadi sandwich generation karena menanggungg hidupnya sendiri dan orang tua.  Kondisi itu dipengaruhi rata-rata kelahiran sekitar 1,9 di Jawa dan di Kota Yogya 1,65. Jumlah anak sedikit, dan orang tua banyak serta panjang umur. Akibatnya dependency ratio (rasio ketergantungan) antara yang makan dan yang bekerja itu sangat berat sehingga untuk menjadi sejahtera  dinilainya agak berat.
“Saya berharap betul pergerakan mahasiswa juga paham bahwa, beban sandwich generation ini tidak ringan, sehingga dalam mengambil langkah-langkah gerakannya itu betul-betul logis. Inilah kita mau sejahtera, mau berkah, atau musibah itu tergantung generasi muda. Maka tentu PMII betul-betul menjadi peran penting di sini,” terangnya
Menurutnya kesejahteraan untuk rakyat supaya kondisi sosialnya bagus semestinya dirintis lebih awal. Oleh karena itu, masalah sosial ekonomi penting sekali. Dalam paparannya, Hasto menekankan pentingnya perputaran uang di lapisan ekonomi menengah ke bawah. Sebagai langkah konkret, Pemkot Yogyakarta pada 2026 akan mengembangkan Wamira untuk memperkuat ekonomi lokal dan menjaga stabilitas harga. Wamira diproyeksikan sebagai kekuatan ekonomi lokal yang mandiri untuk merebut kembali pangsa pasar konsumsi masyarakat.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Noorhaidi Hasan yang juga narasumber sarasehan.

“Karena ekonomi itu harus di tangan rakyat. Jangan yang dikembangkan  kapitalis kanan atas. Ayolah kita kembangkan kapitalis kanan bawah. Yang dipikirkan kesejahteraan anggota. Maka nanti di Kota Yogyakarta kita bikin Wamira, Warung Milik Rakyat,” tambah Hasto
Sedangkan  narasumber lainnya Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Noorhaidi Hasan berharap PMII terus memainkan peran  penting bagi negeri ini, melahirkan kader-kader pemimpin nasional dan daerah, serta  aktor-aktor masyarakat sipil yang memberikan ide-ide segar  terkait arah pembangunan nasional. Kini Indonesia masih menjadi negara berpenghasilan  menengah. Pendapatan menengah ada di sekitar 6.000 US Dollar pendapatan per kapita. Sekarang Indonesia masih sekitar 4.300 US Dollar pendapatan per kapita.
“Beban pembangunan kita juga sangat banyak. Baik untuk membayar pemerintah pusat, transfer ke daerah, belanja pegawai, belanja modal, barang jasa, dan seterusnya, termasuk juga untuk bantuan sosial. Indonesia masih membutuhkan banyak tambahan sumber pendapatan nasional. Inilah tugas dan tantangan bagi kalian, aktivis-aktivis muda, pemimpin-pemimpin masa depan, memikirkan itu semua,” ucap Prof Noorhaidi.

Sementara itu Ketua PMII DIY Muh Faisal menyampaikan PMII DIY akan melanjutkan semangat para pendahulu seperti wali dan Kyai di DIY dalam menjalankan roda organisasi PMII. Dia menjelaskan kini zaman tidak lagi hanya menguji ketahanan fisik dan organisasi, tetapi menguji kesadaran individu di tengah hidup di ruang disrupsi digital. Pada zaman  modern, manusia menjadi canggih tetapi kerap kehilangan makna dirinya sendiri.
“Di sinilah pentingnya PMII tidak boleh hanya menjadi sebuah organisasi kaderisasi struktural. PMII harus menjadi ruang rekonstruksi kesadaran, ruang kader, tempat tumbuh kembang menemukan kembali diri sebagai manusia yang lebih utuh dan luhur. Manusia yang berpikir, merasa, dan bertindak dengan nilai-nilai dasar pergerakan dan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah. Inilah warisan peradaban kita yang harus terus kita lanjutkan,” tandas Faisal.