UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terutama membiasakan cuci tangan pakai sabun, guna mencegah penularan bakteri leptospirosis. Sejak Januari hingga Februari 2026 telah ditemukannya enam kasus leptospirosis.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Seksi Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu, Selasa (03/03/2026).
Ia menjelaskan, kasus leptospirosis di Kota Yogyakarta memang selalu ada setiap tahun atau bersifat endemis. “Ya, selalu ada tiap tahun. Istilahnya endemis. Tidak tinggi, tetapi tetap harus diwaspadai,” ujarnya.
Berdasarkan data Dinkes, pada tahun 2023 tercatat 11 kasus, tahun 2024 sebanyak 9 kasus, dan tahun 2025 sebanyak 14 kasus. Sementara sejak Januari hingga akhir Februari 2026 sudah ditemukan enam kasus.
Endang mengungkapkan, Enam kasus yang ditemukan tahun ini merupakan warga berdomisili Kota Yogyakarta. Seluruh pasien telah menjalani perawatan dan dilaporkan sembuh.
“Kasus ditemukan di lingkungan yang terdapat tikus. Namun, penularan tidak semata-mata terjadi di rumah. Aktivitas di luar rumah seperti di pasar, sungai, sawah, atau tempat lain yang berisiko terpapar air tercemar juga menjadi faktor penting,”katanya.
Tambahnya, Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui bakteri Leptospira, yang umumnya berasal dari urine tikus terinfeksi. Bakteri dapat masuk ke tubuh melalui luka di kulit maupun mukosa seperti mata, hidung, mulut, dan telinga.
Penularan bisa terjadi melalui air, makanan, minuman, atau benda yang terkontaminasi bakteri tersebut.
Pihaknya menjelaskan, gejala awal leptospirosis meliputi demam, pusing, nyeri otot terutama nyeri pada betis mata merah atau kekuningan, serta berkurangnya jumlah urine. Karena gejalanya mirip masuk angin, masyarakat sering kali tidak menyadari infeksi tersebut.
“Demamnya biasanya tidak terlalu tinggi, sekitar 37–38 derajat, tapi nyeri betis itu khas. Kalau ada gejala seperti itu, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” imbuhnya.
Endang menambahkan, kondisi musim hujan seperti saat ini meningkatkan risiko penyebaran leptospirosis. Lingkungan yang lembab dan tumpukan sampah dapat memicu peningkatan populasi tikus.
Untuk itu, masyarakat diimbau untuk rutin membersihkan lingkungan dan tidak menumpuk sampah, menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti sepatu bot dan sarung tangan panjang saat membersihkan selokan, got, atau mengelola sampah, segera mandi dan membersihkan diri dengan sabun setelah terpapar air banjir atau air kotor, serta menutup luka terbuka agar tidak menjadi pintu masuk bakteri. “Intinya tetap waspada, jaga kebersihan, dan terapkan PHBS. Itu yang paling penting,” ujarnya.