UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemunculan penyakit super flu yang diketahui merupakan varian baru influenza A, yakni Influenza A H3N2 Subclade K dan termasuk dalam kategori Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan kemampuan penularan relatif cepat.
Hal ini disampaikan oleh, Sub Koordinator Kelompok Substansi Surveilans, Pengelolaan Data, dan Sistem Informasi Kesehatan Bidang P2P PD SIK Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi Ramtana saat diwawancarai, Rabu (7/1).
Ia menjelaskan, super flu pada dasarnya masih merupakan flu biasa, namun disebabkan oleh varian baru virus influenza A. “Super flu ini termasuk influenza A H3N2 Subclade K. Penularannya memang lebih mudah dan gejalanya cenderung lebih berat dibandingkan influenza biasa, namun hingga saat ini belum ditemukan adanya peningkatan tingkat keparahan penyakit secara signifikan seperti Covid-19,” jelas Solikhin.
Ia menambahkan, kemunculan berbagai varian virus influenza merupakan hal yang wajar dari sisi epidemiologi. Di Indonesia sendiri, influenza A sudah lama ditemukan, hanya saja sebelumnya belum teridentifikasi sub kelompoknya secara rinci.
Berdasarkan hasil penelusuran dan referensi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), super flu memiliki karakteristik gejala yang lebih berat, seperti demam mendadak yang berlangsung lebih lama, nyeri otot dan sendi yang lebih hebat, lemas ekstrem, sakit kepala berat, serta batuk yang persisten hingga dua minggu. Durasi sakit ini lebih panjang dibandingkan influenza biasa yang umumnya membaik dalam waktu sekitar satu minggu.
Namun, Solikhin memastikan di Kota Yogyakarta belum ditemukan lonjakan kasus super flu secara klinis. Dari hasil surveilans sentinel sejak tanggal 28 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026 tercatat sekitar 53 kasus influenza A, namun bukan subclade K.
Terkait dampak, Solikhin menegaskan super flu tidak seberbahaya seperti halnya Covid-19, meski cara penularannya mirip, yakni melalui droplet yang keluar saat batuk, bersin, atau berbicara. Virus juga dapat menempel di permukaan benda dan berpindah ke tubuh melalui tangan yang tidak bersih.
Namun, kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus adalah lansia dan penderita penyakit penyerta (komorbid). “Pada kelompok rentan, risiko perburukan lebih tinggi, sehingga disarankan menggunakan alat pelindung diri saat berinteraksi dan segera mendapatkan perawatan bila muncul gejala,” katanya.
Ia berpesan, untuk pencegahan masyarakat dapat melakukan vaksinasi influenza, meskipun belum tersedia vaksin khusus untuk subclade K. Vaksin flu yang ada dinilai tetap bermanfaat dalam membantu tubuh membentuk antibodi dan mencegah perburukan penyakit. Namun, hingga saat ini belum ada program vaksin flu gratis di Puskesmas, dan vaksinasi masih bersifat berbayar.

Poster merupakan dokumentasi dari Dinas Kesehatan Kota Yogya.

“Selain itu, pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, seperti memakai masker saat sakit, mencuci tangan, menghindari kerumunan, menjaga ventilasi ruangan, serta menerapkan etika batuk yang benar dengan menutup hidung dan mulut menggunakan tisu atau lengan bagian atas,” ungkapnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta telah menyampaikan himbauan kewaspadaan kepada seluruh kepala Puskesmas serta melakukan edukasi kepada masyarakat melalui promosi kesehatan. “Super flu ini memang tidak sehebat Covid-19, tetapi tingkat kesakitannya cukup mengganggu. Jadi yang terpenting adalah mencegah penularan dan menjaga diri agar tidak sakit,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Mantrijeron, Eny Purdiyanti mengungkapkan, hingga saat ini tidak tercatat penderita super flu di wilayahnya. “Masyarakat bisa mencegahnya dengan meningkatkan daya tahan tubuh seperti istirahat cukup, makan makanan yang bergizi dan memenuhi cairan tubuh,” ungkapnya.