Gondokusuman,REDAKSI17.COM – Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan menjadi narasumber dalam dialog bertajuk “Level Up Digitalisasi dan AI untuk UMKM” yang digelar Rabu (11/2/2026) di Gedung PDIN. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta bersama Harian Jogja.

Dalam dialog tersebut, Wawan menekankan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) harus dilihat sebagai peluang besar, khususnya bagi pelaku UMKM di Kota Yogyakarta.

Menurutnya, generasi muda Jogja memiliki keunggulan adaptasi teknologi yang sangat kuat. Hal ini dapat menjadi motor penggerak bagi UMKM untuk naik kelas.

“Anak-anak muda di Jogja itu sangat terbuka dan cepat menerima teknologi. Ini justru kesempatan besar untuk menciptakan jenis-jenis pekerjaan baru dan pola usaha baru,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan.

Ia mencontohkan, banyak produk UMKM sebenarnya berkualitas, tetapi belum dikenal luas karena keterbatasan pemasaran. Melalui kolaborasi dengan komunitas digital dan anak muda yang melek teknologi, produk tersebut dapat dikemas ulang, dipromosikan secara kreatif, dan dipasarkan melalui platform digital.

“Produk ibu-ibu dan bapak-bapak UMKM mungkin enak, bagus, tapi kalau tidak dikenalkan secara digital, orang tidak tahu. Di sinilah pentingnya kolaborasi. Anak muda bisa membantu dari sisi branding, foto produk, pemasaran online, sampai pengelolaan marketplace,” jelasnya.

Wawan menyoroti bahwa transformasi digital UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya kebiasaan transaksi yang masih konvensional. Ia menyebut, meskipun sistem pembayaran digital seperti QRIS sudah tersedia luas, belum semua pelaku usaha dan konsumen terbiasa menggunakannya.

“Sekarang pembayaran sudah bisa pakai QRIS, kartu, non-tunai. Tapi faktanya masih banyak yang nyaman pakai cara manual. Ini soal kebiasaan dan literasi digital yang perlu terus ditingkatkan,” katanya.

Sesi diskusi bersama pelaku UMKM Kota Yogyakarta.

Selain itu, masih ada pelaku UMKM yang belum memanfaatkan marketplace dan platform e-commerce secara optimal. Padahal, menurut Wawan, platform tersebut membuka pasar jauh lebih luas dibanding hanya mengandalkan penjualan offline.

Dalam konteks AI, Wawan menegaskan teknologi ini bukan sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan alat bantu untuk meningkatkan kualitas usaha. AI dapat dimanfaatkan untuk membuat deskripsi produk, materi promosi, ide konten media sosial, hingga analisis tren pasar secara lebih cepat dan efisien.

“Sekarang jualan bisa lewat TikTok, Instagram, marketplace. AI bisa membantu membuat konten promosi lebih menarik, informasi produk lebih rapi, bahkan membantu membaca kebutuhan pasar. Ini alat bantu, bukan pengganti manusia,” tegasnya.

Ia mendorong pelaku UMKM untuk mulai dari hal sederhana, seperti memperbaiki tampilan foto produk, kemasan, serta katalog digital. Menurutnya, dalam penjualan online, konsumen pertama-tama menilai dari visual.

“Orang beli itu pertama lihat foto dan tampilan. Jadi foto produk, desain kemasan, katalog digital itu penting sekali. Di sinilah teknologi dan AI bisa membantu,” imbuhnya.

Wawan menegaskan Pemerintah Kota Yogyakarta terus mendorong ekosistem kolaboratif antara UMKM, komunitas digital, anak muda, serta pelaku industri kreatif. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibanding UMKM berjalan sendiri-sendiri.

Ia berharap forum-forum dialog seperti ini dapat membuka wawasan pelaku UMKM, di mana digitalisasi dan AI bukan tren sesaat, melainkan kebutuhan agar usaha tetap relevan dan kompetitif.

“Potensi anak muda Jogja luar biasa. Kalau ini dikolaborasikan dengan UMKM, maka produk lokal bisa naik kelas, pasarnya meluas, dan ekonomi kota ikut tumbuh,” pungkasnya.