Mantrijeron,REDAKSI17.COM — Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) 2026 harus melampaui sekadar tontonan dan mampu menjadi tuntunan, khususnya dalam menyampaikan pesan lingkungan dan pengelolaan sampah.
Menurut Hasto, kekuatan utama WJNC terletak pada wayang sebagai medium budaya yang sarat nilai. Karena itu, ia mendorong agar pesan-pesan yang diangkat tidak berhenti pada visual karnaval, tapi juga membentuk kesadaran dan perilaku masyarakat.
“Wayang itu bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan dan tatanan. Kalau hanya menghadirkan penonton tanpa ada hikmah, maka kita baru berhasil di aspek tontonan saja,” tegasnya.

Ia menekankan, isu lingkungan harus diterjemahkan secara konkret dalam narasi pertunjukan. Nilai-nilai yang disampaikan, perlu menyentuh aspek kehidupan sehari-hari, termasuk pentingnya menjaga kebersihan dan keteraturan kota.
“Harapannya, setelah menyaksikan, masyarakat tidak hanya terhibur, tapi juga sadar pentingnya pengelolaan sampah, kebersihan, dan keteraturan,” ujarnya.
Hasto juga menyoroti tantangan dalam mengemas wayang agar tetap relevan dengan generasi masa kini. Ia meminta para kreator mampu mentransformasikan bahasa pewayangan menjadi lebih kontekstual tanpa kehilangan nilai dasarnya.
“PR besarnya bagaimana nilai-nilai budaya ini bisa diterjemahkan dan diadopsi oleh generasi sekarang. Jangan sampai terputus,” katanya.

Lebih jauh, ia mengaitkan pesan lingkungan dalam WJNC dengan cita-cita Kota Yogyakarta yang tertib, bersih, dan berkelanjutan. Menurutnya, karnaval ini harus menjadi media edukasi publik yang efektif dalam membangun budaya baru, termasuk kesadaran kolektif terhadap pengelolaan sampah.
“Kalau orang selesai menonton lalu punya kesadaran untuk hidup lebih tertib dan menjaga lingkungan, di situlah WJNC berhasil sebagai tuntunan,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Lucia Daning Krisnawati menambahkan, WJNC 2026 tidak hanya digelar dalam satu malam puncak, namun dirancang menjadi rangkaian kegiatan selama sepekan melalui konsep “WJNC Fest”.

Menurutnya, konsep sepekan ini bertujuan untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan sekaligus memperluas pergerakan ekonomi di Kota Yogyakarta.
“Dengan konsep sepekan, wisatawan tidak hanya datang saat puncak acara, tapi bisa tinggal lebih lama. Dampaknya tidak hanya ke sektor pariwisata, tapi juga ke UMKM dan pelaku usaha lokal,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa rangkaian WJNC Fest melibatkan lintas organisasi perangkat daerah (OPD), mulai dari sektor perdagangan, perindustrian, hingga koperasi dan UMKM, guna mendorong perputaran ekonomi masyarakat.
“Kolaborasi ini diharapkan bisa menggerakkan ekonomi secara menyeluruh, sekaligus memperkuat posisi WJNC sebagai event yang tidak hanya budaya, tetapi juga berdampak ekonomi,” pungkasnya.


