Beranda / Nasional Dan Internasional / 2 Tentara AS Tewas dalam Serangan Iran di Yordania

2 Tentara AS Tewas dalam Serangan Iran di Yordania

 

Washington,REDAKSI17.COM – Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan udara ke Iran untuk malam kedelapan berturut-turut pada Sabtu (18/7/2026) waktu setempat. Serangan itu dilakukan setelah AS mengumumkan dua personel militernya tewas dan satu lainnya hilang akibat serangan Iran di Yordania.

Eskalasi terbaru terjadi setelah gencatan senjata sementara yang disepakati sekitar sebulan lalu runtuh pada pekan lalu. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran akan kembalinya perang terbuka antara kedua negara.

Komando Pusat AS (US Central Command/Centcom) menyatakan serangan udara dimulai pukul 18.00 waktu setempat atas perintah Presiden AS Donald Trump.

Menurut Centcom, operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz sekaligus memberikan respons cepat terhadap Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menyerang personel militer AS di Yordania.

Dalam pembaruan berikutnya, Centcom menyebut gelombang serangan telah selesai. Target yang diserang meliputi fasilitas pengawasan pesisir dan sistem pertahanan udara militer Iran.

Media Iran, Mehr News Agency, melaporkan AS menyerang wilayah dekat Sirik di Iran selatan. Tidak ada korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur yang dilaporkan. Sementara itu, Tasnim News Agency menyebut militer AS juga menyerang lokasi di dekat Shadegan, tidak jauh dari perbatasan Iran-Irak.

Sebagai balasan, televisi pemerintah Iran melaporkan militer negara itu melancarkan serangan pesawat nirawak terhadap aset militer AS di Kamp Al-Adiri dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Kedua pangkalan tersebut disebut menjadi bagian dari sasaran Iran terhadap aset AS dan sekutunya di kawasan Teluk sejak pekan lalu.

Centcom menyatakan dua personel militer AS tewas pada Jumat (17/7/2026), sementara seorang lainnya masih dinyatakan hilang. Dengan perkembangan tersebut, jumlah personel militer AS yang tewas sejak konflik dimulai mencapai 16 orang, sedangkan lebih dari 420 lainnya mengalami luka-luka.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan pengorbanan para personel militer tersebut semakin memperkuat tekad negaranya.

Iran juga dilaporkan mengarahkan serangan ke Arab Saudi, selain terhadap sejumlah sekutu AS di kawasan Teluk dan Yordania, setelah serangan AS menghantam jembatan, fasilitas kelistrikan, serta infrastruktur lainnya di Iran.

Dalam pernyataan tertulis yang dipublikasikan melalui media pemerintah Iran, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menilai tindakan AS menunjukkan tanda tangan Donald Trump “tidak lagi memiliki kredibilitas”. Ia memperingatkan AS akan menghadapi konsekuensi yang lebih berat.

Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas pernyataan tersebut.

Konflik yang dimulai sejak akhir Februari 2026, ketika AS dan Israel menyerang Iran dengan tujuan melumpuhkan program nuklir dan rudalnya, telah mengganggu pasokan energi global, memicu kekhawatiran inflasi, serta memperbesar perebutan kendali atas Selat Hormuz.

Pada Sabtu (18/7/2026), Kuwait kembali menjadi sasaran serangan. Militer Kuwait menyatakan berhasil mencegat rudal balistik dan pesawat nirawak Iran. Sejumlah petugas pemadam kebakaran dan pekerja sektor minyak dilaporkan terluka saat menangani dampak serangan.

IRGC mengklaim telah menyerang pusat dukungan militer AS di Kamp Arifjan, Kuwait, serta menghancurkan fasilitas radar di Pangkalan Udara Ali Al Salem. Kuwait Petroleum Corporation juga menyatakan salah satu fasilitas minyaknya mengalami kerusakan akibat serangan berulang Iran.

Media Iran turut melaporkan IRGC menyerang pangkalan Sheikh Isa di Bahrain yang digunakan pesawat tempur AS, serta pusat data intelijen.

Selain itu, televisi pemerintah Iran mengklaim serangan rudal dan pesawat nirawak ke pangkalan militer AS di Al Azraq, Yordania, menghancurkan sedikitnya dua pesawat tempur dan tiga pesawat lainnya. Reuters menyatakan belum dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen.

Di Arab Saudi, sistem peringatan dini mengeluarkan imbauan kepada warga di Al-Kharj dan Yanbu agar segera berlindung. Dua sumber yang mengetahui peristiwa itu menyebut peringatan dipicu serangan rudal Iran, yang menjadi serangan pertama terhadap Arab Saudi dalam lebih dari tiga bulan.

Namun, IRGC tidak menyebut adanya serangan ke Arab Saudi dalam pernyataan resminya.

Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan perjalanan global bagi warga negaranya di luar negeri. Pemerintah AS mengingatkan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah berpotensi memicu eskalasi yang tidak terduga, termasuk pembatalan penerbangan dan penutupan ruang udara secara berkala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *